VIVIA MEDIA — Obesitas kini menjadi tantangan kesehatan masyarakat Indonesia yang dampaknya jauh lebih luas daripada sekadar perubahan bentuk tubuh.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 23,4 persen orang dewasa Indonesia mengalami obesitas, dengan prevalensi pada perempuan mencapai 31,2 persen, hampir dua kali lipat dibanding laki-laki di angka 15,7 persen.

"Obesitas bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup. Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan terus berkembang di Indonesia," ujar Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), dalam bincang-bincang Kampanye Edukasi #BeraniBicaraBerat: Awali dengan Langkah yang Tepat yang diprakarsai PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) di Jakarta.

Pandangan bahwa obesitas semata akibat terlalu banyak makan atau kurang bergerak selama ini membuat persoalan ini seolah sepenuhnya kesalahan individu.

| Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Anyang-anyangan, Ini Cara Sederhana Jaga Kesehatan Kandung Kemih

Padahal penyebab obesitas berlapis. Mulai dari faktor biologis dan genetik, perilaku kesehatan, kondisi medis, hingga lingkungan saling berinteraksi.

Cara pandang yang menyederhanakan ini pun berisiko melahirkan stigma dan membuat orang enggan mencari pertolongan profesional.

Salah satu risiko yang kerap luput dari perhatian adalah lemak viseral, yakni lemak yang menumpuk di sekitar organ perut dan berkaitan dengan berbagai proses metabolik serta inflamasi.

Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), menjelaskan bahwa resistensi insulin menjadi mekanisme penting yang dapat memicu diabetes dan berbagai penyakit metabolik lain, mulai dari gangguan kolesterol, hipertensi, hingga risiko jantung dan stroke.

| Baca Juga: Penyakit Jantung Rematik, Bahaya Tersembunyi di Balik Sakit Tenggorokan Anak

Karena itu, penampilan seseorang tidak selalu mencerminkan risiko kesehatannya. Lingkar perut lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan 80 sentimeter pada perempuan menjadi indikator sederhana yang perlu diwaspadai.

Meski begitu, mengatasi obesitas tidak sesederhana "mengurangi makan". Tubuh manusia memiliki mekanisme biologis yang secara alami mempertahankan berat badan, sehingga penurunan berat badan yang signifikan lewat perubahan gaya hidup saja kerap sulit dipertahankan.

Menurut Yunir, penanganan obesitas semestinya berfokus pada peningkatan kesehatan dan penurunan risiko komplikasi, bukan semata angka di timbangan.

Hal serupa berlaku untuk urusan diet. Dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), menegaskan tidak ada satu resep diet yang cocok untuk semua orang.

| Baca Juga: Mata Katarak Tak Perlu Menunggu Parah, Deteksi Dini Perbesar Peluang Sembuh

Pola makan seseorang perlu dilihat bersama kebiasaan dan kondisi hidupnya, termasuk hubungan emosional dengan makanan yang kerap terbentuk sejak masa kecil. Asesmen gizi klinis, perubahan perilaku, dukungan psikologis, dan terapi medis pun perlu berjalan beriringan.

Selain pendekatan individual, penanganan obesitas juga tidak bisa dibebankan pada satu orang saja. "Obesitas nggak bisa ditangani secara individual, harus dimulai dari keluarga," kata Prof. Dante.

Kebiasaan makan dan aktivitas keluarga sejak dini turut membentuk perilaku kesehatan anak, meski faktor genetik tetap berperan.

Oleh karena itu, kesadaran terhadap obesitas idealnya tidak menunggu sampai komplikasi muncul. Perubahan ukuran pakaian atau lingkar perut yang bertambah bisa menjadi sinyal awal untuk memeriksakan diri, termasuk lewat program Cek Kesehatan Gratis pemerintah yang turut mengukur tekanan darah dan gula darah. "Jangan menunggu sakit dulu," ujar Erwin.

| Baca Juga: Cegah Gigi Berlubang pada Anak, Mulai dari Enam Kebiasaan Kecil di Rumah

Di sisi lain, pilihan terapi obesitas kini juga makin beragam, mulai dari perubahan gaya hidup hingga terapi berbasis incretin, namun penggunaannya harus di bawah pengawasan tenaga kesehatan.

Prof. Dante menegaskan penanganan bukan soal memilih antara "obat" atau "gaya hidup", melainkan disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing individu berdasarkan pemeriksaan menyeluruh, termasuk komposisi tubuh.

Pada akhirnya, selama obesitas masih dianggap tanda kemalasan, penyandangnya akan terjebak dalam rasa malu dan memilih diam, padahal risiko kesehatan tidak ikut menghilang.

"Tidak ada satu orang pun yang harus menghadapi sendirian dan diam atau dalam rasa malu," kata Prof. Dante. Keputusan berani bicara tentang berat badan adalah langkah awal untuk berani menjaga kesehatan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: