"Awalnya itu karena aku senang menonton wayang. Aku sangat tertarik dan suka sekali dengan dunia pewayangan. Sampai aku tuh saat Lebaran dikasih hadiah sama Ayah dan Bunda. Dulu mintanya mainan, boneka, tapi tahun kemarin (akhir 2024) aku mintanya wayang," kenang Savia.

Keinginan kuat untuk terlibat dalam pementasan wayang awalnya mendorong Savia untuk menjadi seorang dalang. Namun, ia harus berhadapan dengan realita keterbatasan fisiknya. Dengan kedewasaan yang melampaui usianya, ia memutuskan untuk "berdamai" dengan keadaan tanpa harus meninggalkan kecintaannya pada budaya.

"Tadinya aku pengen banget jadi dalang. Tapi karena keterbatasan fisik aku, jadi aku berdamai dengan keadaan. Aku tetap pengen berkesenian, uri-uri budaya, akhirnya aku memutuskan untuk jadi sinden. Sebenarnya sederhana, kenapa jadi sinden? Karena awalnya aku pengen bisa menonton wayang dari dekat," ungkapnya.

Momen Savia saat bertemu Presiden Prabowo Subianto dan Menpora Erick Thohir
Momen Savia saat bertemu Presiden Prabowo Subianto dan Menpora Erick Thohir. Foto: Repro, Reza Wibisono

Identitas "Anak Jakarta" yang Menemukan Akar Jawa

Lahir dan besar di lingkungan Ciledug, Tangerang, bungsu dari dua bersaudara ini awalnya adalah anak ibu kota pada umumnya. Namun, perjalanan liburan ke Yogyakarta pada tahun 2022 setelah masa pandemi menjadi titik balik pencarian jati dirinya.

"Awalnya aku tuh dari kecil sudah lama nggak ke Jogja karena pandemi. Terus sekitar tahun 2022 aku diajak ke Jogja, wisatanya yang budaya banget. Begitu pulang, aku mulai tertarik belajar bahasa Jawa. Di situ aku sudah sadar sepenuhnya kalau aku ternyata orang Jawa," kata Savia disusul tawa kecil.

Meskipun menyandang predikat 'anak Jakarta banget', Savia mulai tekun mempelajari bahasa Jawa, bahkan hingga tingkatan bahasa Kromo (halus). Ia mengaku sering mempelajari kosakata baru melalui dialog-dialog dalam pementasan wayang yang ia tonton secara daring. Proses transisinya dari penyanyi pop hobi menjadi seorang sinden pun diakui cukup berat.

"Kalau di sinden, kita harus menyesuaikan nada gamelan (Laras Pelog dan Slendro). Nadanya tinggi ya harus segitu, nggak bisa dinego," jelasnya mengenai teknis vokal sinden.

| Baca Juga: Momen HUT Kemerdekaan, Parama Hansa Bocah MURI Sabet 3 Penghargaan Menembak

Pertemuan dengan Ki Warseno Slank

Perjalanan profesional Safia dimulai dari sebuah tantangan iseng dari Ayahnya, Sawung Wicaksono. Setelah hanya belajar dasar langgam selama kurang dari dua minggu dengan bantuan rekan ayahnya, Savia ditantang untuk tampil dalam sebuah acara wayangan di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

"Baru dua minggu kurang belajar, ayahnya dapat undangan wayang di Lenteng Agung. Ayahnya tantang, 'Dek, berani nggak nyumbang lagu?'. Itu latihannya cuma tiga atau empat kali, latihan 'kering' tanpa iringan gamelan," cerita Ibunda Savia.

1 2 3 4

Tags: