Brillian menegaskan AI tidak seharusnya diposisikan sebagai pencipta tunggal. Teknologi hanya alat yang membantu kreator melihat kemungkinan yang sebelumnya sulit diwujudkan.

"AI doesn't kill everyone. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kita punya capability lebih, kita punya ruang, punya ide yang lebih jauh, lebih besar kalau kita bisa menggunakan teknologi ini," katanya.

Dengan bantuan AI, satu gagasan bisa dicoba dalam berbagai bentuk. Warna bisa diubah, suasana dibuat berbeda, elemen tertentu ditambah atau dihilangkan untuk menemukan komposisi paling sesuai.

Namun eksperimen bukan berarti menerima begitu saja semua hasil yang diberikan teknologi. Justru di situlah kreativitas manusia bekerja, yaitu melihat setiap hasil secara kritis, membandingkannya dengan gagasan awal, lalu menentukan bagian mana yang layak dikembangkan.

| Baca Juga: Tak Hanya Religi, Ini Deretan Destinasi Non Religi dan Tips Wisata di Arab Saudi

Gagasan yang Jelas, Hasil yang Terarah

Menurut Brillian, kemampuan menggunakan AI kerap dikaitkan dengan kemampuan membuat prompt.

Padahal persoalannya lebih mendasar, yaitu seberapa jelas gagasan yang ingin diwujudkan. Referensi warna, tekstur, karakter, suasana, hingga gaya visual membantu memperjelas arah karya sebelum kreator memberi instruksi kepada AI.

Ia juga mengingatkan agar kreator tidak terpaku pada hasil pertama. Ada gambar yang secara teknis menarik tapi tidak punya cerita, ada pula visual yang sesuai referensi tapi lemah dari sisi komposisi.

Karena itu, proses memilih menjadi sama pentingnya dengan proses menghasilkan. Kreator perlu berani mengulang, mengubah instruksi, mengganti referensi, atau menggabungkan beberapa hasil sekaligus.

| Baca Juga: Erling Haaland Bikin Pangling! Rambut Gondrong Ikoniknya Kini Dipangkas Cepak

Bagian dari Perjalanan Panjang Teknologi Kreatif

1 2 3

Tags: