Brillian membandingkan kemunculan AI dengan teknik rotoscope yang dikembangkan Max Fleischer pada 1919, teknik yang pada masanya turut mengubah cara orang membuat karya visual. Baginya, AI berada dalam perjalanan serupa.

"Teknologi ini baru dan lebih pintar. Yuk kita coba maksimalin," ujarnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi, sebuah karya tetap berawal dari manusia. AI membantu menerjemahkan gagasan, namun manusia yang menentukan apa yang ingin disampaikan, mulai dari budaya, sejarah, hingga hal kecil di sekitar yang dilihat dengan cara berbeda. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: