Nahasnya, saksi tersebut kemudian tewas dalam insiden penembakan lain beberapa minggu setelahnya, sebelum sempat memberikan keterangan lebih lanjut.

Pihak kepolisian selama ini berdalih bahwa penyelidikan sulit berjalan karena minimnya bukti fisik dan keengganan para saksi untuk buka mulut. Namun, bagi keluarga dan pendukung Tupac, alasan ini terasa timpang mengingat betapa banyak petunjuk yang sebenarnya sudah ada sejak awal.

| Baca Juga: Skandal Polisi di Jeju: Dari Ratusan Laporan Orang Hilang Hingga Rentetan Penemuan 4 Jenazah

Keterlambatan penanganan ini bahkan memicu pertanyaan yang lebih luas: apakah kematian seorang musisi muda kulit hitam saat itu benar-benar mendapat perhatian dan keseriusan investigasi yang seharusnya.

Titik terang baru muncul dari Duane Davis sendiri, lewat memoar tahun 2019 berjudul "Compton Street Legend". Ia mengakui keterlibatannya sebagai saksi mata sekaligus pihak yang berperan dalam pembunuhan tersebut.

Pengakuan itulah yang akhirnya membuka kembali penyelidikan dan berujung pada penangkapannya tahun 2023, sebelum akhirnya diadili tahun ini.

Selama persidangan yang berlangsung hampir dua pekan, jaksa mengingatkan juri bahwa Davis telah berulang kali mengakui keterlibatannya, baik ke polisi, televisi, buku, hingga YouTube.

| Baca Juga: Istri Satpam Waduk Jatiluhur yang Tewas dengan Terborgol Kisahkan Malam Terakhir Sebelum Kejadian

Sebaliknya, tim pembela berargumen bahwa cerita Davis hanyalah bumbu yang dilebih-lebihkan demi uang dan ketenaran, sembari menyoroti minimnya bukti fisik yang benar-benar mengaitkannya dengan lokasi kejadian.

Vonis ini menutup salah satu misteri paling lama dalam sejarah musik hip-hop. Namun bagi keluarga Tupac, rasa lega itu datang bercampur getir, sebab keadilan yang mereka nantikan harus ditebus dengan penantian yang jauh lebih panjang dari yang seharusnya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: