VIVIA MEDIA — Fedi Nuril kembali dengan film terbarunya berjudul 'Bapakmu Kiper'. Seolah ingin menanggalkan citra spesialis peran poligami yang selama ini melekat, aktor berusia 44 tahun ini tampil berbeda dengan memerankan Warto, seorang mantan kiper tarkam yang berjuang memperbaiki hubungan dingin dengan putra semata wayangnya, Dino (Ali Fikry).

Bagi Fedi, peran ini bukan sekadar pekerjaan seni, melainkan medium pembelajaran pribadi dalam menjalankan perannya sebagai ayah dari tiga anak laki-laki di dunia nyata.

Fedi mengungkapkan bahwa memerankan karakter Warto memberinya perspektif baru mengenai pola asuh anak laki-laki yang beranjak remaja. Meskipun anak-anak kandungnya hasil pernikahan dengan Calysta Vanny Widyasasti masih kecil, ia memandang peran ini sebagai simulasi masa depan.

"Ini jadi pembelajaran saya karena anak-anak saya masih kecil. Menjelajahi bagaimana memiliki anak remaja itu jadi bekal nanti kalau anak-anak saya sudah remaja. Saya ingin punya hubungan yang kuat dan terbuka sama anak-anak saya," ujar Fedi Nuril saat ditemui di Metropole, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026).

| Baca Juga: Teaser Film 'Bapakmu Kiper' Dirilis, Ali Fikry Jadi Pemain Bola Tarkam

Fedi juga menyoroti pentingnya integritas bagi seorang orang tua. Ia menekankan.bahwa kasih sayang tidak boleh menjadi alasan untuk menghalalkan segala cara demi keinginan anak.

"Belajar mendengar pendapat anak. Belajar walaupun saya seorang bapak bisa melakukan sesuatu buat anak, tapi kalau caranya nggak bener, ya jangan sampai menghalalkan segala cara. Apalagi sampai ngubah-ngubah aturan kan ya?" tuturnya.

Melawan Naluri Maskulinitas dan Keterbukaan Emosional

Salah satu tantangan terbesar yang dieksplorasi Fedi dalam film produksi Entelekey Media Indonesia dan Entelekey Sinema Indonesia (ESI) ini adalah dinamika hubungan antara ayah dan anak laki-laki.

Fedi mengakui adanya kecenderungan naluriah di mana anak laki-laki lebih dekat dengan ibu, dan sebaliknya. Namun, melalui film ini, ia ingin mendobrak batasan tersebut.

| Baca Juga: Poster Fedi Nuril Mau Menangkap Bola di Film 'Bapakmu Kiper' Bikin Penasaran

"Nalurinya ibu dekat sama anak laki-laki, bapak dekat sama anak perempuan. Tapi saya nggak mau itu menjadi pembatas. Saya melihatnya ini sebagai masalah maskulinitas," ungkapnya.

Fedi berharap pesan tentang keterbukaan emosional ini dapat tersampaikan kepada para penonton, terutama para ayah yang seringkali merasa canggung untuk menunjukkan sisi lembut di depan anak laki-lakinya.

"Masalahnya, kalau laki-laki untuk bisa berbicara secara terbuka, mendalam, dan intim itu khawatir dianggap lemah. Padahal itulah solusi supaya hubungan bapak dan anak laki-laki bisa kuat," sambungnya.

Keputusan Fedi mengambil peran sebagai penjaga gawang disambut antusias oleh anak-anaknya di rumah. Hal ini bertepatan dengan momentum kegemaran anak-anaknya terhadap sepak bola pasca gelaran Piala Dunia.

| Baca Juga: Meski Cuma 'Atlet Tarkam', Fedi Nuril Tetap Latihan Intensif Demi Film 'Bapakmu Kiper'

"Mereka senang karena kemarin kena demam Piala Dunia, langsung ngefans sama kipernya Argentina (Emiliano Martinez). Terus pas tahu bapaknya main film jadi kiper, mereka excited banget," ungkap Fedi sambil tersenyum.

Latihan Fisik Keras Hingga Ciptakan Karakter 'Kiper Malas'

Demi mendalami peran Warto yang merupakan mantan pemain bintang di tim Serigala Tua, Fedi Nuril harus menjalani pelatihan fisik yang intensif. Ia yang terbiasa bermain di posisi bek tengah (center back) saat sekolah dulu, harus belajar teknik menjaga gawang dari nol.

"Seminggu sebelum syuting kita ada pelatihan. Kita dikasih coach khusus. Selama syuting pun sebelum mulai take, kita ada latihan lagi, drilling, pemanasan. Karena ceritanya Serigala Jompo ini dulu waktu di tarkam juara, jadi harus kelihatan meyakinkan," jelas Fedi.

Uniknya, Fedi menciptakan ciri khas tersendiri untuk karakter Warto agar sesuai dengan narasi usianya yang sudah tidak muda lagi.

"Tiba-tiba saya dapat ide, membuat sendiri karakter Warto ini adalah kiper yang malas menangkap. Tapi untungnya 'kejompoannya' agak dikasih lihat, jadi bolehlah kelihatan capek dan ngos-ngosannya," tambahnya.

Workshop Dua Minggu dan Pesan Sportivitas

Proses persiapan tidak hanya dilakukan secara individu. Seluruh jajaran pemain mengikuti workshop selama dua minggu untuk membangun chemistry dan fisik sebagai tim sepak bola. Fedi menceritakan betapa beratnya latihan tersebut.

"Kita ada workshop dua minggu. Latihannya drill kayak pemain bola beneran, pakai cone, harus dribble, nendang, segala macam. Ada yang sampai biru-biru karena mungkin sudah lama nggak olahraga. Tapi karena teman-teman suka bercanda, syuting yang capek jadi tetap enak dijalani," kenangnya.

Menutup keterangannya, Fedi menekankan bahwa nilai utama yang ingin diangkat adalah kejujuran dalam berkompetisi. Hal ini tercermin dalam salah satu pesan karakter Warto kepada Dino.

"Bagaimana kita menjadi sportif dalam berkompetisi. Seperti pesan yang disampaikan ke Dino, bahwa dalam situasi apa pun, kamu harus selalu bermain dengan jujur," pungkasnya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: