VIVIA MEDIA — Afgan Syahreza mengungkapkan sisi lain dari kehidupannya di industri hiburan selama 18 tahun. Pria yang akrab disapa Afgan ini mengaku pernah berada di titik jenuh dan merasa lelah dengan rutinitasnya sebagai publik figur.

Popularitas yang menuntutnya untuk selalu tampil sempurna dan melayani permintaan foto dari penggemar di mana pun berada diakuinya sebagai beban yang cukup berat.

"Harus selalu siap depan kamera kalau ada yang minta foto. Pasti ada lah rasa jenuh, rasa lelah," ungkap Afgan saat ditemui di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, Rabu (2/9/2026).

Pria 37 tahun ini merefleksikan kembali perjalanan panjangnya sejak pertama kali terjun ke dunia musik tanah air segera setelah lulus sekolah menengah atas. Baginya, transisi cepat dari seorang remaja biasa menjadi penyanyi papan atas membawa dinamika psikologis tersendiri.

| Baca Juga: Cerita Afgan Main Film 'Agensi Rumah Tangga': Garap Soundtrack Kilat, Punya 6 ART di Rumah

"Aku sudah 18 tahun berkarier, beda dua tahun lah sama Enzy. Dari lulus SMA tiba-tiba jadi penyanyi. Pasti ada rasa jenuh dan lelah," tutur penyanyi pelantun lagu Terima Kasih Cinta tersebut.

Curhatan Asli Terbawa ke Dalam Film

Meski rasa penat kerap menghampiri, Afgan menegaskan bahwa ia tidak ingin larut dalam emosi negatif tersebut. Ia memilih untuk tetap profesional dan menghargai posisi yang ia capai saat ini.

"Dijalanin aja karena saya bersyukur sih. Tetap apa pun itu saya tetap bersyukur," katanya.

Keresahan pribadi tersebut ternyata tidak hanya dirasakannya di dunia nyata, tetapi juga tumpah ke dalam karakter Kafka yang ia mainkan dalam film terbarunya Agensi Rumah Tangga.

| Baca Juga: Afgan dan Lesti Kejora Akhirnya Kesampaian Duet: Latihan Nyanyi hanya 10 Menit

Kemiripan Karakter Kafka dan Sisi 'Private' Afgan

Pelantun lagu Jodoh Pasti Bertemu ini menyebut bahwa ia menemukan banyak kemiripan antara kepribadian aslinya dengan peran yang ia bawakan, terutama dalam hal menjaga privasi.

Afgan menjelaskan bahwa dirinya memiliki sifat yang sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya, sama halnya dengan karakter Kafka. Ia merasa karakter tersebut menjadi cerminan dirinya yang seringkali merasa kewalahan dengan tuntutan popularitas.

"Kalau Afgan private, emang private banget ya. Sama kayak Kafka, itu sangat relate," ujar Afgan

Salah satu momen yang paling berkesan dalam film tersebut adalah adegan di kolam renang di mana Kafka mengungkapkan kelelahannya kepada Katia (Enzy Storia) sebagai orang yang selalu menjadi pusat perhatian.

Afgan mengungkapkan bahwa dialog dalam adegan tersebut sebenarnya tidak ada di dalam naskah awal. Penambahan dialog tersebut merupakan ide spontan dari sutradara, Naya Anindita, yang sudah sangat mengenal keresahan hati Afgan di dunia nyata.

"Tapi ada satu adegan yang mungkin sudah kalian tonton, yang di kolam renang. Saat Kafka tiba-tiba 'curcol' (curhat colongan) betapa dia lelah selalu jadi sorotan publik bertahun-tahun," ungkap Afgan.

Ia membeberkan bahwa Naya sengaja menyelipkan momen tersebut sebagai bentuk representasi nyata dari perasaan Afgan.

"Adegan itu sebenarnya nggak ada di skrip. Pas hari-H, Naya tiba-tiba punya ide nambahin dialog itu karena dia tahu itu adalah curahan hati Afgan juga," imbuhnya.

| Baca Juga: Teuku Rifnu Wikana Rasakan Pengalaman Jadi Polisi di Film Autopsy

Tantangan Syuting dan Atmosfer Ceria di Lokasi

Di balik pesan mendalam yang disampaikan lewat filmnya, Afgan membagikan cerita menarik mengenai proses syuting yang penuh tantangan. Salah satunya adalah kendala keterbatasan waktu di lokasi syuting yang menuntut fokus tinggi dari para pemain dan kru.

"Wah, ada banget adegan berkesan. Jadi ada satu momen kita syuting di sebuah lokasi, waktunya mepet banget, cuma sampai jam 10 malam. Kita cuma punya waktu tiga jam untuk menyelesaikan adegan yang menurut saya sangat penting," kenang Afgan.

Namun, alih-alih merasa tertekan, suasana di lokasi justru dipenuhi oleh canda tawa yang hampir tidak terbendung. Kedekatan antar pemain membuat proses pengambilan gambar menjadi sangat menyenangkan meski di bawah tekanan waktu.

"Tapi di sana kita malah bercanda terus, ketawa-ketawa terus sampai saya ikut tertawa juga," tutupnya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: