Serius Tekuni Lari, Shanada Jzen Maknai Sebagai Sarana Disiplin dan Komitmen Diri
Untuk latihan lari penuh, target satu kilometer bisa menjadi permulaan, sementara metode run-walk cocok bagi yang belum mampu berlari tanpa jeda.
"Kalau mau full running, target satu kilometer dulu. Kalau run-walk, coba 30 menit nonstop, jangan berhenti. Kalau capek, jalan dulu, nanti kalau sudah enak lari lagi," jelasnya, sembari mengingatkan bahwa membangun daya tahan lebih penting ketimbang buru-buru mengejar pace.
| Baca Juga: Sukses di Usia Muda Bukan Segalanya, Maudy Ayunda Ungkap Cara Menemukan Jalan Sendiri
Semakin rutin berlari, Shanada juga semakin memahami batas kemampuan tubuhnya. Ia memantau detak jantung menggunakan jam pintar dan menilai, dari pengalaman pribadi, bahwa detak jantung di atas 180 per menit merupakan tanda untuk lebih berhati-hati.
Ia pernah mengalami pandangan berkunang-kunang akibat terlalu lama berada pada intensitas tinggi, pengalaman yang menyadarkannya bahwa mengetahui kapan harus melambat sama pentingnya dengan mengetahui kapan harus berlari lebih keras.
Rutinitasnya kini tidak hanya berisi lari. Ia berusaha berlari tiga kali seminggu dan menambah latihan kekuatan dua kali, karena strength training dinilainya penting untuk mengurangi risiko cedera sekaligus menjaga massa otot.
"Yang menjaga kita untuk tetap sehat, tetap awet muda itu sebenarnya otot," ujarnya.
| Baca Juga: Andika Mahesa Tetap Bahagia Meski Jalani LDR dengan Istri Setelah Menikah
Dari rutinitas itu, olahraga bagi Shanada bukan lagi sesuatu yang dilakukan hanya demi target tertentu, melainkan kebiasaan yang hampir setiap hari ia jalani. Ketika garis start semakin dekat, ia tidak datang dengan obsesi menjadi yang tercepat.
Ia membawa pemahaman tentang membangun kebiasaan, mengenali kemampuan tubuh, dan menikmati perjalanan bersama komunitas yang memiliki semangat serupa.
"Saya berharap semakin banyak masyarakat yang terinspirasi untuk mulai berlari dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup mereka," tandasnya. (*)







