Serius Tekuni Lari, Shanada Jzen Maknai Sebagai Sarana Disiplin dan Komitmen Diri
VIVIA MEDIA — Nama Shanada Jzen dikenal luas di kalangan pegiat lari sebagai sosok yang aktif membagikan pengalamannya. Namun, perjalanannya sebagai pelari sebenarnya belum berlangsung lama.
Ia baru sekitar setahun terakhir serius menekuni lari, meski sudah tiga tahun berolahraga secara rutin.
Awalnya, lari hanya menjadi cara sederhana untuk membakar kalori. Shanada bahkan kerap berlari dari rumah menuju pusat kebugaran demi menurunkan berat badan. Namun setelah merasakan efek endorfin, aktivitas itu perlahan berubah menjadi kebiasaan yang justru ia nantikan.
Komunitas lari menjadi alasan lain yang membuatnya bertahan. Di lingkungan itu, ia bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang dan profesi yang dipersatukan oleh kesenangan yang sama terhadap aktivitas fisik.
| Baca Juga: Tiga Tahun Konsisten, Ini Rahasia Febby Rastanty Tetap Tekuni Dunia Lari
"Running community itu luar biasa positif. Aku ketemu banyak orang dari berbagai background, berbagai profesi, tapi semuanya punya tujuan yang sama dan attitude yang positif," katanya saat bincang-bincang di Milo Activ Indonesia Race Jakarta International 10K di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga, Rabu (2/9/2026).
Dari situ, lari bukan lagi sekadar olahraga pembakar kalori bagi Shanada. Ia mulai memaknainya sebagai pelajaran tentang disiplin dan komitmen, karena target yang ingin dicapai menuntut latihan konsisten, bukan sekadar semangat sesaat.
Bagi Shanada, keikutsertaannya di ajang lari bukan semata soal mengejar waktu terbaik.
"Bagi saya, lari bukan hanya tentang jarak atau kecepatan, tetapi juga tentang konsistensi, keberanian untuk menantang diri sendiri, dan komunitas yang saling mendukung," ujarnya.
| Baca Juga: Anak Ikut Lari? Jangan Langsung Duduk Setelah Finis, Ini yang Wajib Dilakukan
Pandangan tersebut ia tekankan terutama untuk pelari pemula, karena keinginan mengejar jarak atau pace tertentu secara terburu-buru justru bisa membuat olahraga yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi beban.
Ia sendiri pernah berada di fase ketika satu kilometer terasa belum cukup, namun kini menyarankan pendekatan yang lebih sederhana bagi pemula.
Untuk latihan lari penuh, target satu kilometer bisa menjadi permulaan, sementara metode run-walk cocok bagi yang belum mampu berlari tanpa jeda.
"Kalau mau full running, target satu kilometer dulu. Kalau run-walk, coba 30 menit nonstop, jangan berhenti. Kalau capek, jalan dulu, nanti kalau sudah enak lari lagi," jelasnya, sembari mengingatkan bahwa membangun daya tahan lebih penting ketimbang buru-buru mengejar pace.
| Baca Juga: Sukses di Usia Muda Bukan Segalanya, Maudy Ayunda Ungkap Cara Menemukan Jalan Sendiri
Semakin rutin berlari, Shanada juga semakin memahami batas kemampuan tubuhnya. Ia memantau detak jantung menggunakan jam pintar dan menilai, dari pengalaman pribadi, bahwa detak jantung di atas 180 per menit merupakan tanda untuk lebih berhati-hati.
Ia pernah mengalami pandangan berkunang-kunang akibat terlalu lama berada pada intensitas tinggi, pengalaman yang menyadarkannya bahwa mengetahui kapan harus melambat sama pentingnya dengan mengetahui kapan harus berlari lebih keras.
Rutinitasnya kini tidak hanya berisi lari. Ia berusaha berlari tiga kali seminggu dan menambah latihan kekuatan dua kali, karena strength training dinilainya penting untuk mengurangi risiko cedera sekaligus menjaga massa otot.
"Yang menjaga kita untuk tetap sehat, tetap awet muda itu sebenarnya otot," ujarnya.
| Baca Juga: Andika Mahesa Tetap Bahagia Meski Jalani LDR dengan Istri Setelah Menikah
Dari rutinitas itu, olahraga bagi Shanada bukan lagi sesuatu yang dilakukan hanya demi target tertentu, melainkan kebiasaan yang hampir setiap hari ia jalani. Ketika garis start semakin dekat, ia tidak datang dengan obsesi menjadi yang tercepat.
Ia membawa pemahaman tentang membangun kebiasaan, mengenali kemampuan tubuh, dan menikmati perjalanan bersama komunitas yang memiliki semangat serupa.
"Saya berharap semakin banyak masyarakat yang terinspirasi untuk mulai berlari dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup mereka," tandasnya. (*)







