Jangan Asal Pilih Piring, Kenali Bahan yang Bisa Berisiko bagi Kesehatan
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Piring bukan cuma soal motif yang lucu atau bentuk yang estetik. Bahan pembuatnya juga menentukan bagaimana alat makan tersebut bereaksi ketika bersentuhan dengan makanan, terutama makanan yang panas, asam, atau berminyak.
Yang menarik, piring melamin yang sering dianggap aman karena tidak mudah pecah ternyata punya aturan penggunaan sendiri.
Begitu juga piring keramik, meski termasuk pilihan yang umum, jenis glasir dan kualitas pembuatannya tetap perlu diperhatikan.
Piring seperti apa yang bagus untuk kesehatan?
Untuk penggunaan sehari-hari, keramik, porselen, kaca, dan stainless steel food grade termasuk pilihan yang praktis.
| Baca Juga: Nasib Kekasih Sarwendah, Foto Giorgio Antonio Lenyap dari Poster Seri 'Bunga di Tepi Jurang'
Permukaannya relatif mudah dibersihkan dan tidak dirancang untuk melepaskan bahan ke makanan dalam kondisi penggunaan normal.
Namun, keramik dan porselen bukan berarti otomatis aman.
Dilansir dari FDA, menjelaskan bahwa beberapa keramik tradisional, antik, buatan tangan, atau memiliki dekorasi warna sangat mencolok dapat mengandung timbal pada glasirnya.
Keramik yang retak atau rusak juga sebaiknya tidak digunakan untuk menyajikan makanan.
| Baca Juga: Apa Itu Kanker Limfoma? Penyakit yang Dialami Heeseung eks ENHYPEN Saat Kecil
Jadi, saat membeli piring, cek beberapa hal berikut:
1. Food Grade: pastikan memang ditujukan untuk kontak dengan makanan.
2. Permukaan utuh: hindari piring dengan retakan, serpihan, atau glasir yang mengelupas.
3. Produsen jelas: terutama untuk keramik, porselen, atau piring dekoratif.
4. Sesuai fungsi: jangan memasukkan piring ke microwave hanya karena bentuknya terlihat tahan panas.
Piring yang perlu lebih diperhatikan
1. Melamin
Melamin bukan berarti harus langsung dibuang. FDA menyebut makanan dapat disajikan di atas tableware melamin, tetapi jangan digunakan untuk memanaskan makanan di microwave.
Risiko migrasi melamin dapat meningkat ketika makanan yang sangat asam dipanaskan pada suhu tinggi.
| Baca Juga: Bukan Cuma DHA, Ini Kolaborasi Nutrisi yang Dibutuhkan Otak Anak
Dilansir Health Canada, juga mencatat bahwa migrasi melamin dari tableware dapat dipengaruhi suhu, lama kontak, kondisi permukaan, serta karakter makanan seperti asam dan berlemak.
2. Plastik berkualitas rendah
Bukan semua plastik berbahaya. Yang perlu diperhatikan justru jenis bahan, label penggunaannya, dan apakah produk memang dibuat untuk kontak dengan makanan.
Hindari memakai wadah plastik yang sudah rusak atau tidak memiliki informasi penggunaan yang jelas, terutama untuk makanan panas.
3. Keramik atau tembikar dengan glasir bermasalah
Ini bagian yang sering luput. Keramik vintage, dekoratif, atau berasal dari sumber yang tidak jelas bisa memiliki glasir yang mengandung timbal atau kadmium.
| Baca Juga: Cuma Angkat Tumit, Ini 5 Manfaat Calf Raise yang Jarang Diketahui
FDA bahkan menyarankan pengujian atau menghentikan penggunaannya jika keamanan produk tidak dapat dipastikan.
Intinya, piring yang aman bukan selalu yang paling mahal. Yang lebih penting adalah materialnya sesuai untuk makanan, kondisinya masih baik, dan digunakan sesuai petunjuk. (*)







