Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Generasi Z tumbuh dikelilingi layar, aplikasi, dan media sosial sehingga teknologi bukan lagi hal asing bagi mereka. Namun, kedekatan itu justru memunculkan tantangan baru, bagaimana memastikan teknologi tidak sekadar menjadi tempat menghabiskan waktu, melainkan ruang untuk belajar, berkarya, dan menemukan peluang.

Parimal Deshpande, VP Community and Partner Product Marketing Adobe, mengingatkan bahwa kreativitas sebenarnya dimiliki setiap orang.

"Tidak ada satu orang di planet ini yang tidak kreatif, apakah mereka menyadarinya atau tidak," katanya dalam Idea Talks 2026: Indonesia Has Talent. So What's Missing? di JICC Senayan, Jumat (4/9/2026).

Media sosial kerap hanya menampilkan hasil akhir suatu karya, video yang rapi, desain menarik, atau foto sempurna, tanpa memperlihatkan proses panjang di baliknya. Padahal kemampuan kreatif terbentuk lewat keberanian mencoba, melakukan kesalahan, menerima masukan, lalu mencoba lagi.

| Baca Juga: Jangan Biarkan Inspirasi Berlalu! Begini Cara Mengubah Ide Menjadi Karya dengan AI

Karena itu, Gen-Z tidak perlu menunggu menjadi ahli untuk mulai membuat sesuatu. Video sederhana, tulisan pendek, atau proyek kecil bisa menjadi titik awal, sebab karya pertama memang tidak harus sempurna, yang penting benar-benar dibuat.

Menemukan bidang yang disukai juga membuat proses belajar terasa lebih ringan. Gen-Z tidak harus mengikuti semua tren yang sedang ramai. Justru, menemukan hal yang benar-benar menarik minat lalu mengembangkannya secara konsisten menjadi salah satu cara membangun identitas.

Meski begitu, uang sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tujuan, sebab dari konsistensi menikmati proseslah keterampilan terbentuk dan kualitas karya perlahan meningkat.

Teknologi yang berubah cepat menuntut kemampuan beradaptasi, bukan sekadar menguasai satu alat. Ketika menemukan aplikasi atau perangkat baru, Gen-Z didorong untuk mencari tahu apa yang bisa dilakukan dengannya, bukan berhenti pada rasa ingin tahu semata.

| Baca Juga: Sukses di Usia Muda Bukan Segalanya, Maudy Ayunda Ungkap Cara Menemukan Jalan Sendiri

Menurut Parimal, kreator membutuhkan kombinasi alat dan keterampilan yang tepat agar kreativitas berkembang dan bisa dimonetisasi.

Eksperimen juga menjadi keuntungan hidup di era digital. Gen Z bisa mencoba berbagai bentuk karya tanpa harus memikirkan lebih dulu apakah hasilnya akan disukai banyak orang.

"Buat sesuatu. Publikasikan jika memang siap. Lihat responsnya. Dengarkan kritik. Kemudian perbaiki," tegas Parimal. Kesalahan dalam proses ini sebaiknya tidak dianggap kegagalan, melainkan cara mengetahui apa yang perlu diperbaiki, selama tidak berhenti pada satu percobaan.

Kreativitas juga tidak berarti harus dikerjakan sendirian. Bertemu orang lain, bertukar ide, atau berkolaborasi dengan orang yang memiliki keahlian berbeda dapat memperluas cara pandang sekaligus membuka peluang baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.

| Baca Juga: Pevita Pearce Soroti Kabut Asap di Kuala Lumpur, Singgung Dampak Karhutla Kalimantan

Di sisi lain, Gen-Z juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak budaya serba cepat dalam melihat kreativitas. Tidak semua karya harus langsung menghasilkan uang. Ada masa untuk belajar, mencoba, dan membangun portofolio terlebih dahulu sebelum peluang ekonomi datang dengan sendirinya.

Parimal melihat Indonesia memiliki potensi kreatif besar.

"Kami menyadari bahwa Indonesia memiliki talenta kreatif yang luar biasa," ujarnya. Namun potensi itu tidak akan berkembang hanya karena teknologi tersedia, dibutuhkan keberanian mencoba dan konsistensi mengembangkan kemampuan.

Pertanyaan penting bagi Gen-Z bukan lagi soal teknologi apa yang paling baru, melainkan apa yang bisa dibuat dari teknologi yang sudah ada di tangan. Menjadi pengguna memang mudah, tetapi menjadi pencipta dengan gagasan dan suara sendiri adalah tantangan yang jauh lebih berarti. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: