Di Balik Dress Pink Olivia Rodrigo, Ada Kisah Perjuangan Desainer Palestina
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Ada perjuangan panjang desainer Palestina, Yasmeen Mjalli, di balik dress pink yang dikenakan penyanyi Olivia Rodrigo saat menghadiri konferensi pers Daisy Chain Fields Festival pada Jumat (28/8/2026) lalu.
Dalam acara tersebut, Olivia tampil cantik mengenakan gaun mini custom dari label Nol Collective yang berbasis di Ramallah, Palestina. Gaun itu memiliki potongan neckline berlipit dan lengan bergelombang.
Sentuhan detail sulaman bermotif burung dan rangkaian bunga daisy mempermanis busananya. Namun, itu bukan sulaman biasa, melainkan tatreez, teknik bordir tradisional Palestina.
Yang lebih menarik dari detail dress Olivia Rodrigo adalah cerita di baliknya. Yasmeen Mjalli sempat hampir menyerah mempertahankan Nol Collective akibat berbagai hambatan bisnis yang dialaminya di tengah konflik Palestina.
| Baca Juga: Bukan Sekadar Gaya, Olivia Rodrigo Kenakan Gaun Label Palestina di Festival Amal

Puncaknya terjadi ketika kain wol yang ia pesan dari India tertahan selama berbulan-bulan di Israel, lalu dimusnahkan. Di tengah keputusasaan itu, ia mendapat pesanan dress custom dari pelantun 'Drop Dead' tersebut.
"Saya benar-benar berpikir, mungkin sebaiknya kami berhenti saja, mungkin ini usaha terakhir kami. Saya sudah sangat lelah. Namun, pesanan dari Rodrigo terasa seperti campur tangan Tuhan," ujar Yasmeen kepada Vogue Arabia, Senin (7/9/2026).
Desainer wanita berusia 30 tahun itu hanya punya waktu satu minggu untuk menyelesaikan gaun pesanan Olivia. Mau tidak mau, ia harus memutar otak, memanfaatkan bahan apa pun yang tersedia di Ramallah.

| Baca Juga: Penuh Makna, Gaun Miss World Uganda 2026 Terinspirasi 7 Lapisan Operasi Caesar
Pada akhirnya, pilihannya jatuh pada kain sutra mentah (jenis kain sutra alami yang masih agak kasar, berbintik halus, dan tidak licin) berwarna baby pink. Warna tersebut dinilai sangat cocok dengan gaya Olivia Rodrigo.
"Saat bekerja di Palestina, sering kali Anda harus bekerja dengan sumber daya yang ada. Kreativitas Anda dibatasi oleh apa yang tersedia," tuturnya.
Yasmeen Mjalli tidak mengerjakan gaunnya sendirian. Ia menggandeng para penjahit dan pengrajin yang saling berbagi tugas, mulai dari memotong bahan, menjahit, hingga menyulam.

Perjuangan tidak berhenti di situ. Setelah gaun jadi, masalah selanjutnya adalah, bagaimana mereka mengirimkannya ke Olivia Rodrigo di Amerika Serikat?
| Baca Juga: Intip Koleksi Tas Mini Baru Amanda Manopo, Harganya Bikin Salfok!
Di Palestina sana, tidak ada kurir lokal yang bisa mengirim barang dengan cepat ke luar negeri. Pada akhirnya, gaun tersebut dititipkan kepada dua orang asing yang bersedia membawanya di bagasi pribadi hingga sampai ke tangan si penyanyi langsung.
Nol Collective Jadi Sumber Mata Pencarian Pengrajin Palestina
Sejak peristiwa 7 Oktober 2023, di mana kelompok militan Palestina, Hamas, menyerang wilayah Israel Selatan, banyak buruh Palestina yang kehilangan izin kerja. Sebagian dari mereka, khususnya yang perempuan, kemudian beralih ke kerajinan sulam.
Nol Collective pun menjadi tumpuan mata pencaharian bagi para penyulam. Penghasilan mereka sangat bergantung pada pesanan yang masuk.
| Baca Juga: Cerita di Balik Kebaya Resepsi Tunku Aishah Johara, Sarat Tradisi dan Sejarah
Yasmeen Mjalli mendirikan label tersebut pada 2020, berkolaborasi dengan koperasi perempuan, bengkel jahit, dan pengrajin sulam dengan tujuan membuat pakaian yang melestarikan kerajinan tradisional.
Bagi wanita itu, Nol Collective adalah sebuah label yang unik karena mereka tetap berkarya di tengah hambatan dan berbagai batasan akibat konflik yang melanda.
"Hambatan akan selalu ada, tetapi jika Anda bisa beradaptasi, Anda akan menuai hasilnya. Saya terus bangkit, bangkit, dan bangkit lagi," ucapnya. (*)







