Jika Film 'Istimewa' Capai 1 Juta Penonton, Produser Siap Bangun Rumah Istimewa di Berbagai Daerah
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Film Istimewa membawa harapan yang lebih besar dari sekadar cerita di layar lebar. Produser Abdullah Mansuri menyiapkan rencana untuk membangun Rumah Istimewa di berbagai daerah apabila film tersebut berhasil mencapai satu juta penonton.
Rumah Istimewa nantinya diharapkan menjadi tempat bagi anak-anak istimewa untuk mendapatkan ruang berkarya dan mengembangkan kemampuan mereka. Abdullah Mansuri ingin keberadaan tempat tersebut tidak berhenti di Jakarta, tetapi bisa dirasakan anak-anak di berbagai wilayah Indonesia.
"Kalau Tuhan mengizinkan ini menembus satu juta, saya ingin bikin Rumah Istimewa di seluruh daerah di Indonesia. Harapannya semua orang kalau Tuhan memanggil saya pulang, akan muncul ayah-ayah yang baru," ujar Abdullah Mansuri.
Bagi Abdullah, film Istimewa juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa anak-anak yang selama ini memiliki keterbatasan tetap dapat berkarya di dunia seni. Ia memilih menyebut mereka sebagai anak-anak istimewa.
| Baca Juga: Kisah dari Rumah 'Istimewa' Dibawakan Para Penyandang Disabilitas ke Layar Lebar
"Kalau ditanya bangga, sejak saya umumkan, saya dengan lantang menyatakan mereka bukan disabilitas tapi istimewa. Anak-anak saya yang jumlahnya ribuan, sangat mampu menunjukkan kemampuan mereka. Saya sangat bangga," tegasnya.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Mathias Muchus. Aktor senior itu menilai kesempatan untuk berkarya seharusnya terbuka bagi siapa saja. Dunia seni, menurut dia, tidak hanya menjadi ruang bagi aktor yang sudah lebih dulu memiliki nama.
"Jadi mereka punya hak yang sama, makanya ada film ini. Kita masih kasih kesempatan untuk hak mereka berkarya. Jadi ruang kreativitas bukan cuma buat Mathias Muchus atau Agus Kuncoro," jelas Mathias Muchus.
Di balik pembuatan film ini, ada pula cerita personal dari para pemain. Bambang Ceper, misalnya, mengaku pernah tumbuh dengan rasa tidak percaya diri karena sering menjadi bahan ejekan.
| Baca Juga: Bukan Soal Akting, Ini Tantangan Rein, Fadli, Bambang dan Niatus Tampil di Film 'Istimewa'
Pertemuannya dengan Abdullah Mansuri perlahan mengubah pandangan tersebut. Ia merasa mendapat dukungan seperti seorang anak yang memiliki tempat untuk pulang.
"Dulu aku tidak pede sama sekali. Aku punya ayah kandung tapi tidak dekat, apalagi orang selalu ngeledek. Setelah kenal Ayah Mansuri dan anak-anak istimewa, setelah itu mentalku terbentuk," ungkap Bambang Ceper.
Bambang juga mengingat salah satu momen yang membuatnya merasa diterima. Saat dirinya masih diliputi rasa takut dan memilih bersembunyi, Abdullah justru datang dan memberikan dukungan secara langsung.
"Setelah malu di kamar pakai selimut, tidak kenal ayah, terus ayah masuk dan peluk. Dia bilang kalau ada apa-apa bilang ke Ayah, kamu tidak usah takut," kenangnya.
Pengalaman serupa dirasakan Niatus Sholihah. Ia mendapat dukungan dari Abdullah Mansuri ketika harus menyelesaikan pendidikan dan skripsinya. Dukungan tersebut membuatnya merasa memiliki sosok yang bisa menguatkan ketika menghadapi kesulitan.
"Alhamdulillah saya bisa berjuang dan menyelesaikan kuliah saya karena ayah selalu menguatkan saya. Tentunya kembali lagi ayah dengan ayah Mansuri saya merasa sangat diterima dan tidak dibedakan," kata Niatus Sholihah.
Sementara itu, Yani Melwani yang sudah lima tahun mendampingi anak-anak tersebut melihat hubungan mereka memang sudah dekat sejak sebelum film dibuat.
Karena itu, ia tidak membutuhkan waktu lama untuk membangun kedekatan selama proses syuting.
| Baca Juga: Mathias Muchus Belajar Makna 'Istimewa' Saat Beradu Akting dengan Penyandang Disabilitas
"Sebenarnya aku kenal mereka sudah 5 tahun. Kalau dilihat Kinan jadi kakak mereka dalam kehidupan pribadi juga seperti itu. Kehidupan pribadi kita memang sama seperti film," pungkas Yani Melwani.
Film Istimewa pada akhirnya tidak hanya mempertemukan para pemain dengan dunia perfilman. Bagi Abdullah Mansuri, film ini menjadi bagian dari rencana yang lebih panjang untuk membuka ruang bagi anak-anak istimewa agar dapat terus belajar, berkarya, dan menunjukkan kemampuan mereka. (*)







