Karakternya Punya Luka Batin, Anya Zen Didampingi Psikolog Saat Syuting 'Lobang Buaya'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Anya Zen membagikan pengalaman berat sekaligus menantang saat menjalani proses syuting film horor Lobang Buaya, garapan sutradara Hanung Bramantyo.
Memerankan tokoh Ningsih, seorang penari Ronggeng yang bernasib tragis, Anya dituntut melakoni adegan penyiksaan ekstrem yang menguras fisik hingga mengharuskannya berkonsultasi dengan psikolog demi menjaga stabilitas mentalnya.
Pemilik nama lengkap Dhianya Nuasnigi Zen ini mengungkapkan bahwa adegan paling menguras emosi dan tenaga adalah adegan di mana ia memerankan korban penyiksaan. Saat syuting mengharuskan dirinya beradegan dalam kondisi fisik terkekang namun tetap harus memberontak sekuat tenaga.
"Menurut aku, puncak emosi yang paling intens itu ada di bagian hampir akhir, sekitar seperempat terakhir film. Di situ intensitasnya sangat tinggi, baik secara emosional maupun secara fisik. Karakter Ningsih ini jadi korban penyiksaan," jelas Anya saat media visit ke redaksi Vivia Media di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
| Baca Juga: Baskara Mahendra Ubah Cara Jalan dan Hitamkan Kulit Demi Peran Film Lobang Buaya
Secara blocking dan adegan, posisi Anya membuatnya susah bergerak. Sementara intensitas perasaan yang dirasakan Ningsih sangat tinggi, yang berarti dia berusaha untuk memberontak dan kabur.
Tekanan fisik tidak berhenti di situ. Anya juga harus melakoni adegan berlari di hutan belantara dan diangkat secara paksa oleh sejumlah orang. Akibat totalitasnya tersebut, ia mengalami memar sungguhan di tubuhnya.
"Ada adegan lari-lari di hutan dan itu benar-benar lari di hutan sungguhan. Lalu ada adegan di mana aku diangkat dan ditarik oleh orang-orang saat sedang meronta. Jadi secara fisik memang sangat melelahkan dan menyakitkan," ungkap Anya.
"Aku mengalami memar-memarnya beneran ada di badan aku, ada jatuh-jatuhnya juga. Tapi buat aku, itu bagian dari pekerjaan yang tetap aku nikmati. Kalau bukan karena profesi sebagai aktor, mungkin insyaallah aku tidak akan pernah merasakan beban dan emosi seberat itu," sambungnya.
| Baca Juga: Bukan Remake G30S/PKI, Hanung Bramantyo Tegaskan Film ‘Lobang Buaya’ Murni Horor Fiksi
Sempat Keracunan Makanan
Putri sulung dari model legendaris dan desainer Indonesia, Ratih Sanggarwati ini menceritakan, ia sempat jatuh sakit di lokasi syuting akibat mengalami keracunan makanan. Kondisi tersebut memaksanya dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan medis berupa infus.
"Waktu itu sepertinya aku keracunan makanan. Jadi mengalami muntah-muntah dan diare parah. Sempat dibawa ke rumah sakit dan diinfus, tapi tidak sampai rawat inap, cuma disuruh istirahat dan pulang ke penginapan," jelas Anya Zen.
Pulang dari rumah sakit, Anya merasa kondisinya sudah membaik. Apalagi ia sudah disuntik obat anti mual. Dia memutuskan kembali ke lokasi karena jadwal padat yang berfokus penuh pada karakternya.
"Tapi begitu sampai di lokasi dan baru buka pintu mobil, aku langsung muntah lagi. Akhirnya Mas Hanung bilang, 'Enggak, enggak, pulang aja, istirahat.' Akhirnya aku balik ke hotel dan istirahat total selama tiga hari," kenangnya.
Selama masa pemulihan, tim produksi memutuskan menggunakan pemeran pengganti (body double) untuk menjaga kontinuitas syuting.
"Yang diambil untuk pemeran pengganti itu adegan-adegan seperti bagian kaki saja atau pengambilan gambar dari arah belakang," tegasnya.
Gandeng Psikolog
Sadar akan beratnya luka batin yang dialami karakter Ningsih, aktris 29 tahun ini berinisiatif menggandeng psikolog profesional sejak proses pra-produksi. Langkah ini diambil agar trauma karakter fiktif tidak terbawa ke kehidupan nyatanya.
"Itu inisiatif dan pilihan aku sendiri. Pada saat masa persiapan, aku sempat bicara ke casting director, Kak Widi, dan juga Mas Hanung untuk berkonsultasi dengan psikolog mengenai karakter Ningsih. Mereka sangat mendukung. Bahkan sesi pertemuannya dilakukan secara online di sela-sela proses reading," jelas Anya.
| Baca Juga: Agus Kuncoro Belajar Bersyukur dari Pemain Disabilitas di Film 'Istimewa'
"Aku tegaskan bahwa aku tidak mau luka batin yang dialami Ningsih itu terbawa menjadi luka pribadi aku. Dari situ, psikolog menyiapkan beberapa teknik grounding," terang pemain film Ali Topan ini.
Salah satu metode yang dipakai fokus pada indra penciuman, karena indra penciuman adalah indra yang paling cepat memanggil memori. Ia diminta membawa wangi-wangian hirup seperti incense atau parfum yang biasa ia pakai di rumah. "Supaya begitu sutradara teriak 'cut' setelah adegan berat, aku bisa langsung mencium aroma familiar itu untuk kembali ke diri aku sendiri," tambahnya.
Kendati telah menyiapkan semua itu, Anya merasa suasana kerja di lokasi syuting sangat membantu transisi emosinya. Lawan main yang melakoni adegan penyiksaan langsung bersikap suportif begitu kamera berhenti merekam.
"Lawan main aku yang adegannya menyiksa aku kan posisinya paling dekat secara fisik. Jadi begitu sutradara bilang 'action', dia menyiksa aku, tapi begitu 'cut', sambil menunggu tim artistik datang melepaskan ikatan atau kekangan. Suasana di lokasi mencair, kita bisa tertawa-tawa lagi," papar Anya.
| Baca Juga: Tayang di Indonesia, Ini 5 Fakta Menarik Film HOPE yang Dibintangi Zo In Sung dan Jung Ho Yeon
Pemulihan Fisik di Lombok dan Pola Kerja Tanpa Overlap
Usai merampungkan syuting film horor yang membalikkan jam tidur layaknya mengalami jet lag, Anya memilih rehat total selama satu hingga dua pekan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, untuk memulihkan kebugaran fisiknya.
"Syuting horor itu sangat menguras tenaga, dan jam tidurnya terbalik seperti mengalami jet lag. Butuh waktu untuk mengembalikan ritme tidur normal. Jadi setelah selesai syuting, aku biasanya langsung pergi berlibur ke luar kota untuk mencari pantai. Kemarin aku ke Lombok, sekitar satu sampai dua minggu di sana," bebernya.
Anya menjelaskan bahwa terapi alam di pantai membantunya memulihkan kondisi fisik dan mengembalikan kesegaran kulitnya.
"Terkena sinar matahari dan menginjak pasir itu rasanya seperti grounding alami buat tubuh. Selain itu, setelah syuting horor biasanya kulit aku kelihatan sangat pucat karena kelelahan, jadi berjemur (tanning) di pantai membuat badan aku terlihat lebih segar dan sehat kembali," tutup Anya.
| Baca Juga: Lepas Aura CEO 'Queen of Tears', Kim Ji Won Jadi Ahli Bedah Jenius di 'Doctor X'
Film ini berlatar setahun sebelum meletusnya peristiwa 1965, Desa Lobang Buaya diguncang teror pembunuhan berantai yang mengincar para tokoh desa. Para korban ditemukan tewas mengenaskan dengan punggung berlubang serta sayatan kata-kata sindiran di tubuh mereka, seperti Tamak, Lamis, dan Maruk.
Saat desas-desus “Hantu Bolong” makin merebak, Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) diutus untuk mengusut dalang pembantaian tersebut. Teror makin menjadi-jadi ketika istri baru Soegeng, Arum Wangi (Carissa Perusset), mulai dihantui arwah perempuan yang menuntut organ tubuhnya dikembalikan.
Bisikan arwah yang menyebut Arum sebagai Ronggeng perlahan membuka tabir bahwa kekacauan ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari ritual gelap berbahaya untuk mengubah arah sejarah. (*)







