Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Rumah produksi Forka Films resmi meluncurkan proyek terbesarnya bertajuk Empat Musim Pertiwi. Film ini mencatatkan sejarah baru dalam industri sinema tanah air lewat keterlibatan ko-produksi berskala global yang melibatkan enam negara, yakni Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.

Skala masif proyek yang disutradarai Kamila Andini ini juga terwujud melalui kolaborasi dengan deretan entitas perfilman bergengsi, di antaranya Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, hingga Navvaros.

Tak hanya dari segi produksi, film yang dibintangi Putri Marino dan Arya Saloka ini juga resmi mendapatkan representasi internasional melalui Goodfellas, salah satu agen penjualan internasional (international sales agent) kenamaan asal Prancis.

Goodfellas memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola katalog film-film auteur bervisual artistik kuat yang sukses menorehkan prestasi gemilang di berbagai panggung dunia, termasuk pengakuan di Cannes Film Festival hingga Academy Awards.

| Baca Juga: Putri Marino Menangis Usai Lihat Trailer 'Empat Musim Pertiwi', Ini Penyebabnya

Alasan Penundaan Sejak 2017: Pengukuran Kapasitas Produser

Di balik itu semua, proyek Empat Musim Pertiwi ternyata sempat tertunda bertahun-tahun. Produser Ifa Isfansyah mengungkapkan bahwa ia sempat merasa belum siap memproduseri proyek ambisius ini ketika naskahnya mulai dirintis pada tahun 2017 silam.

"Kalau kita mau mengerjakan sesuatu harus mengukur kapasitas kita. Pada saat itu, tahun 2017, semua film-film saya sebenarnya film low-budget yang secara skala produksi itu kecil. Kemudian saya juga mulainya dari sutradara kan," jelas Ifa Isfansyah saat ditemui di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/9/2026).

Ifa menambahkan bahwa skala produksi kala itu belum memadai untuk mengeksekusi visi besar sutradara, baik dari perizinan hingga teknis lapangan.

"Di tahun-tahun itu memang produksi yang saya handle belum sebesar ini. Saya bilang besar karena skalanya, pemain, kita eksplor tempatnya, perizinan, teknisnya," lanjut Ifa.

| Baca Juga: Arya Saloka Happy dengan Look Kumis dan Jenggot di Film 'Empat Musim Pertiwi'

Tantangan Terberat Kamila Andini

Sutradara Kamila Andini sepakat dengan keputusan penundaan tersebut. Menurutnya, Empat Musim Pertiwi merupakan film yang secara struktural sangat rumit dan menuntut dukungan teknis tingkat tinggi karena memadukan banyak genre sekaligus.

"Tapi aku juga setuju sih sebagai sutradara, karena memang ini film yang bisa dibilang mixed-genre. Ada sci-fi-nya, ada dramanya, ada sosial dramanya, ada juga psychological horror-nya. Jadi di film ini pengin banget di-embrace," papar Kamila Andini.

Kamila mengakui beban produksi film ini adalah yang paling masif sepanjang karier penyutradaraannya. Secara teknikal itu cukup menantang dan cukup berat. Oleh karena itu ia butuh support produksi yang cukup untuk bisa menggambarkan semuanya dengan baik.

"Perjalanan yang tidak mudah membuat film ini. Saya mungkin sudah beberapa kali juga bilang, ini film paling susah, paling berat yang saya pernah bikin," tutur Kamila.

Proses penulisan naskah juga tidak berjalan mulus hingga Kamila sempat berniat menghentikan pengembangannya.

"Enggak gampang, karena pada saat penulisan juga ada hal-hal yang saya harus berhenti, 'Benar enggak ya saya mau nulis tentang ini?' Kayaknya kalau beneran mau nulis tentang ini, saya harus go all the way. Kayak emang harus push the boundaries juga, harus go beyond gitu," kenang Kamila.

Menembus Toronto International Film Festival

Kerja keras tersebut terbayar setelah Empat Musim Pertiwi dipastikan melenggang ke Toronto International Film Festival (TIFF), salah satu barometer festival film terkemuka di dunia pada September ini. Di festival ini, film karya anak bangsa tersebut akan bersanding dengan ratusan karya sinema global terbaik.

"Senang banget karena Toronto itu salah satu festival dengan platform terbesar di dunia. Tahun ini akan ada 293 film yang diputar di festival tersebut dari seluruh dunia, dan filmnya besar-besar juga.

| Baca Juga: Film 'Empat Musim Pertiwi' Karya Kamila Andini, Akan Premiere di Toronto International Film Festival 2026

Jadi, berada atau menjadi salah satu film yang diputar di festival ini tentu saja sebuah kehormatan selalu buat saya," ungkap Kamila yang pernah membawa film Yuni ke panggung internasional.

Di sisi lain, karya ini juga menjadi proses refleksi personal bagi Kamila terhadap identitas kebangsaannya.

Baginya arti 'pulang' dalam film ini juga untuk kembali lagi memahami, belajar, balik lagi ke titik nol untuk melihat, merasakan, memahami semua yang terjadi di sekitarnya.

"Dan semoga ini bermanfaat, berguna untuk semua audiens di Indonesia," ucapnya.

Inspirasi Magis Kawasan Gunung Bromo

Gagasan cerita Empat Musim Pertiwi lahir secara organik saat Kamila Andini dan Ifa Isfansyah menghabiskan waktu liburan keluarga di kawasan Gunung Bromo.

| Baca Juga: Tampilkan Kota Melbourne, Ini Cerita Cast dan Sutradara Film 'Ibadah dan Cinta' Saat Syuting di Sana

Visual alam Bromo memantik analogi tentang fase kehidupan manusia.

"Sebenarnya film ini ditulis memang pada saat kami sedang liburan keluarga juga di Bromo. Jadi Bromo itu memang salah satu destinasi wisata favorit keluarga kami, bersama saya, Mas Ifa, dan anak-anak. Jadi kita memang sudah beberapa kali ke sana," ungkapnya.

Mengenai tantangan birokrasi dan perizinan syuting di kawasan Bromo, Ifa Isfansyah menjelaskan bahwa kawasan tersebut biasa untuk syuting.

"Kami dibantu komunitas dan masyarakat lokal yang telah terbiasa dengan aktivitas produksi sinematografi. Tapi memang untuk syuting yang sifatnya panjang, jarang sudah ada kulturnya," pungkas Ifa. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: