Bisakah AI Gantikan Sentuhan Manusia dalam Dunia Fashion? Ini Kata Para Desainer
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleIa mengaku proses tersebut membuatnya kembali merasa seperti sedang belajar dari awal: "Padahal sebetulnya susah. Kita seperti sedang menciptakan dan belajar bersama."

Bagi Andy Tan dan Jerome Kurnia dari Two Stitches, yang berkolaborasi dari Jakarta, Bali, dan Berlin, AI membantu memangkas proses pengembangan koleksi yang biasanya membutuhkan sampel fisik berulang kali.
| Baca Juga: Headphone Lisa BLACKPINK di MV ‘SaWaDiKa’ Diduga Jiplak Karya Desainer Suriah
Dalam pengembangan koleksi "MRTYNY", sketsa konseptual dikembangkan menjadi simulasi jatuh kain tiga dimensi dan virtual fitting pada model digital, sehingga sebagian keputusan desain bisa diambil sebelum sampel fisik berikutnya diproduksi.
Pola itu memangkas proses dari berbulan-bulan menjadi hitungan hari. Meski begitu, riset material tetap krusial.
"Fabric yang kita butuh dari mana, jadi ketika kita masukin ke prompt, kita juga enggak asal taruh barang fabric. Kita riset dulu, baru akhirnya ketemu," ujar Andy.
AI juga membantu Two Stitches membaca potensi pasar internasional, seperti Thailand, sebelum mengambil keputusan bisnis.
| Baca Juga: Hadiri Pernikahan Keluarga Mangkunegaran, Ariel Tatum Tampil Cantik Berkebaya Pink
"Kalau misalkan gua jual baju gua di Thailand, apakah harganya cocok? Dengan adanya deep research ini, itu tuh membantu kita jadi kayak, oke nih kalau gua mau coba jualan di luar, pas enggak nih harganya," kata Andy.

Bagi Andy, pada akhirnya AI hanyalah alat: "AI itu menurut gue cuma bagian dari tools kita. Kalau ngomongin authenticity, human touch itu yang enggak bisa diganti dari AI sendiri."
Ketiga pengalaman ini memperlihatkan pola yang sama: AI memperluas kemampuan riset, eksplorasi, dan pengujian gagasan, tetapi keputusan kreatif, selera, dan pemahaman konteks tetap berada di tangan manusia.
Teknologi tidak berdiri di depan gagasan, melainkan di belakangnya membantu mengolah kemungkinan, sementara manusia yang tetap menentukan arah dan makna dari apa yang diciptakan. (*)







