Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Luka operasi yang tampak sudah menutup ternyata belum berarti proses penyembuhannya selesai. Di balik permukaan kulit yang tampak rapi, tubuh masih menjalani tahap perbaikan jaringan.

Proses perbaikan itu bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, terutama pada luka pembedahan seperti operasi sesar yang melibatkan beberapa lapisan jaringan sekaligus, mulai dari kulit, otot, hingga fasia.

“Luka pembedahan itu lebih dalam. Kita memang sengaja membuat sayatan, mulai dari kulit, jaringan di bawahnya, otot, bahkan sampai lapisan fasia,” ujar Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Ulul Albab, Sp.OG, saat menjelaskan hal ini dalam Hansaplast First Aid Conference di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).

Ia menekankan bahwa kedalaman luka operasi membuat proses pemulihannya tidak bisa disamakan dengan luka sehari-hari seperti lecet atau gores.

| Baca Juga: Merasa Sehat karena Tak Ada Keluhan? Begini Bahaya Hipertensi yang Diam-Diam Merusak Tubuh

Perawatan luka C-section punya tantangan tersendiri. Lokasinya yang berada di perut bagian bawah yang rentan lembap, ditambah perhatian ibu yang baru melahirkan sering lebih tertuju pada bayi ketimbang kondisi lukanya sendiri.

“Jangan sampai kita justru menambah luka baru pada luka yang sengaja kita buat. Pada akhirnya ibu tidak fokus lagi pada perawatannya, padahal luka tersebut tetap membutuhkan perhatian,” kata dr. Ulul.

Karena itu, edukasi perawatan idealnya sudah diberikan sejak keputusan menjalani C-section diambil, bukan menunggu masalah muncul.

Dr. Ulul menambahkan, sekitar 66 persen pasien mengalami abnormal scarring setelah C-section, sehingga pencegahan sejak awal dinilai jauh lebih penting daripada mengobati bekas luka yang sudah terlanjur terbentuk.

| Baca Juga: Banjir Keringat Padahal Tak Kepanasan, Apa yang Sebenarnya Terjadi Pada Tubuh?

Perawatan luka pascaoperasi tidak boleh dilakukan sembarangan tanpa panduan medis.

“Jangan pernah coba-coba melakukan perawatan luka sendiri. Miskonsepsi mengenai perawatan luka masih banyak,” tegas dr. Ulul. Hal ini mengingat setiap jenis luka memiliki kebutuhan penanganan yang berbeda.

Dokter spesialis dermatologi dr. Pipim Septiana Bayasari Yudho Purwono, Sp.DVE, menambahkan bahwa setelah luka menutup, tubuh sebenarnya memasuki fase proliferasi dan remodeling untuk mematangkan jaringan.

“Jangan pernah puas pada saat luka itu tertutup karena masih ada proses penyembuhan setelahnya. Jadi tetap merawat dan melindungi luka, dan jangan lupa memperhatikan scar management setelah itu,” katanya.

| Baca Juga: Kesehatan Usus Anak Dibentuk Sejak dalam Kandungan, Ini Penjelasan Dokter

Pasien pascaoperasi disarankan tetap membatasi aktivitas berat secara bertahap agar gesekan, keringat, dan regangan pada area luka tidak memicu iritasi, infeksi, atau bahkan jahitan terbuka kembali.

Selain menjaga kebersihan luka, kulit di sekitarnya juga perlu dirawat agar tidak kering dan gatal, sebab garukan dapat memperburuk proses penyembuhan.

“Ketika kulit kering dan terasa gatal, pasien akan menggaruk. Garukan itu kemudian menimbulkan iritasi dan kondisi luka justru bisa menjadi lebih buruk,” jelas dr. Pipim. Pasien juga perlu segera kembali ke dokter bila luka tiba-tiba memerah, nyeri, bengkak, atau jahitan terbuka.

Persoalan lain yang sering terlewat adalah jaringan parut. Bekas luka normal biasanya muncul pada minggu kedua hingga minggu ke-12 dan lambat laun mengempis, sementara jaringan parut hipertrofik dan keloid bisa tumbuh lebih menonjol bahkan melewati batas luka semula.

“Luka bisa sembuh, tetapi scar tidak otomatis berhenti berkembang. Supaya scar tidak tumbuh semakin besar, pencegahan harus dimulai sejak perawatan luka,” kata dr. Pipim. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: