PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS, Begini Penjelasan Dokter Kandungan
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleGaya hidup modern seperti kurang gerak, kurang tidur, stres kronis, dan pola makan tinggi kalori dapat memperburuk kondisi ini, meski faktor genetik tetap berperan besar.
Tanda-tanda PMOS beragam dan kerap tidak disadari. Siklus menstruasi lebih dari 35 hari atau kurang dari delapan kali setahun sering dianggap variasi biasa, padahal merupakan salah satu sinyal penting.
| Baca Juga: Mengejan Saat Buang Air Kecil Bukan Tanda Menua Biasa, Cek Prostat Sebelum Terlambat
Tanda lain dapat berupa kelebihan hormon androgen, seperti rambut kasar di wajah atau dada, jerawat membandel, hingga kerontokan rambut. Diagnosis membutuhkan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari anamnesis, tes darah, hingga USG, dengan kriteria Rotterdam yang mengharuskan terpenuhinya setidaknya dua dari tiga karakteristik utama.
“Karena gejalanya beragam, kita tidak bisa mengatakan seseorang mengalami PMOS hanya karena haidnya tidak teratur atau karena pada USG terlihat banyak folikel. Diagnosis harus dilakukan secara menyeluruh,” kata Dr. Gita. Bahkan siklus haid yang tampak normal belum tentu berarti ovulasi berlangsung konsisten, sehingga pemeriksaan medis tetap penting bila muncul gejala lain.
Selama ini PMOS paling sering dikaitkan dengan kesulitan hamil. Padahal, dalam jangka panjang kondisi ini juga membawa risiko resistensi insulin, diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, sleep apnea, serta dampak psikologis seperti kecemasan dan depresi.
“Kesuburan memang menjadi salah satu perhatian, tetapi bukan satu-satunya. Kita juga perlu memikirkan kesehatan perempuan dalam jangka panjang, termasuk kesehatan metabolik dan psikologisnya,” ujar Dr. Gita.
| Baca Juga: Luka Operasi Sudah Menutup, Benarkah Sudah Sembuh? Ini yang Sering Terlewat
Diagnosis PMOS pun bukan vonis bahwa seseorang tidak bisa memiliki anak. Dengan pengelolaan yang tepat, perubahan gaya hidup, serta penanganan medis sesuai kebutuhan, seperti pil KB kombinasi untuk mengatur siklus menstruasi atau terapi untuk merangsang ovulasi, banyak perempuan dengan PMOS tetap dapat hamil secara alami.
PMOS tidak sepenuhnya dapat dicegah karena faktor genetik berperan, namun dapat dikelola melalui deteksi dini dan perubahan gaya hidup.
Pada perempuan dengan berat badan berlebih, menurunkan sekitar 5-10 persen berat badan dalam 3-6 bulan disebut dapat membantu memperbaiki siklus menstruasi sekaligus mengurangi resistensi insulin, didukung pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, tidur cukup, dan pengelolaan stres.
“Yang paling penting adalah memahami bahwa PMOS merupakan kondisi yang dapat dikelola. Jangan hanya datang ketika ingin hamil. Kesehatan metabolik dan hormonal juga perlu diperhatikan sejak awal agar risiko jangka panjang dapat ditekan,” tutur Dr. Gita.






