Nex Carlos Ajak Anak Muda Naikkan Kuliner Tradisional Indonesia
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Kuliner tradisional Indonesia saat ini menghadapi tantangan. Bukan karena kehilangan penggemar, melainkan karena cara orang menikmati makanan terus berubah.
Kini, makanan tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari pengalaman, tampilan, hingga cerita yang bisa dibagikan di media sosial. Kuliner Indonesia, menurut kreator konten kuliner, Nex Carlos, punya keistimewaan yang sulit digantikan.
”Yaitu ikatan emosional. Karena makanan itu sudah dekat dengan kita sejak kecil,” kata Nex di Hutan Kota GBK Senayan, Jakarta, Sabtu (24/10).
| Baca Juga: Justin Bieber dan Hailey Bieber ke Seoul, Kunjungi Pop-up Fashion hingga Kuliner Michelin
Namun karena saat ini makanan bukan hanya dinilai dari rasa, tapi juga pengalaman, kuliner tradisional Indonesia juga harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Yaitu makanan yang jadi bagian dari gaya hidup, sarana bereksplorasi, sekaligus cara mengekspresikan diri.
Ditambah lagi survey Jakpat tahun 2025 menunjukkan 77 persen responden Gen Z masih memilih cita rasa Indonesia. Temuan itu memperlihatkan kuliner nusantara tetap memiliki tempat di tengah perubahan selera.
Dinamis, Ekspresif dan Eksploratif
Head of Marketing Foods Unilever Indonesia, Nuning Wahyuningsih, melihat budaya kuliner Indonesia sebagai sesuatu yang dinamis, ekspresif, dan eksploratif. ”Anak muda sekarang punya cara sendiri dalam mengekspresikan diri, termasuk melalui makanan. Mereka berani mencoba sesuatu yang baru, menggabungkan berbagai rasa, dan membuat kreasi yang sesuai dengan karakter mereka,” kata Nuning.
| Baca Juga: Potret Azizah Salsha Ikut Pelatihan Intensif di Sekolah Kuliner Elit Prancis
Selain mengutamakan rasa, sebagian konsumen mempertimbangkan tampilan makanan, kepraktisan proses memasak, serta pengalaman yang menyertainya. Hidangan yang menarik secara visual juga lebih mudah dibagikan melalui media sosial. Sehingga makanan dapat jadi bahan percakapan sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia.
Karenanya, menurut Nex, pelaku usaha perlu memahami bahan yang digunakan, menguji perpaduan rasa, dan memastikan hasilnya tetap menarik ketika dinikmati.
Baginya, hal yang menarik bukan semata-mata bentuk makanan yang berbeda. Melainkan kejutan yang muncul ketika cita rasa akrab diolah dengan pendekatan baru.
| Baca Juga: Bukan Cuma Rasa, Sisca Soewitomo Bongkar 3 Syarat Makanan Enak yang Bikin Laris Manis
Salah satu contohnya inovasi dari cimol, jajanan berbahan aci yang dikenal luas.
Dalam pengembangan menu khusus bertajuk Cimol Miss Dasem, pelaku usahanya melakukan beberapa kali uji coba dengan sejumlah varian kecap untuk menemukan perpaduan yang sesuai.

Proses tersebut tidak hanya mempertimbangkan rasa manis dan gurih. Tapi juga bagaimana bahan mengalami karamelisasi, bagaimana aromanya muncul, serta sejauh mana rasanya menyatu dengan keseluruhan hidangan. Penerimaan konsumen pun menjadi pertimbangan sebelum menu tersebut disajikan.
| Baca Juga: Marshanda Geluti Hobi Berkebun, Bikin Pupuk Kompos Sendiri dari Sisa Makanan
Contoh ini memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari bahan yang asing atau teknik memasak yang rumit. Jajanan sederhana yang sudah dikenal masyarakat pun dapat menjadi titik awal untuk bereksperimen, asalkan proses pengembangannya dilakukan dengan cermat.
Masakan tradisional pun tidak harus selalu diperlakukan sebagai sesuatu yang hanya pantas disajikan dengan cara lama. Resep dan bahan warisan dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman, tanpa harus memutus hubungan dengan sejarah dan kebiasaan yang melahirkannya.
Nex juga berharap kuliner Indonesia mendapat pengakuan lebih luas di tingkat internasional. Ia mencontohkan bagaimana makanan Thailand semakin dikenal di berbagai negara. Menurut dia, kuliner Indonesia memiliki potensi serupa jika kekayaan rasanya terus diperkenalkan dan dikembangkan secara konsisten.
| Baca Juga: Jangan Asal Tambah Topping! 6 Makanan Ini Perlu Dibatasi Saat Makan Mi Instan
Upaya tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, mengenali makanan daerah sendiri, memahami karakter bahan lokal, lalu berani mencoba pendekatan baru dalam mengolahnya. Media sosial juga bisa menjadi ruang untuk memperkenalkan hidangan Nusantara kepada khalayak yang lebih luas, selama cerita dan kualitas makanannya tetap menjadi perhatian.
Pada akhirnya, menjaga kuliner Indonesia bukan hanya tentang mempertahankan resep yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan rasa juga perlu diberi ruang untuk berkembang agar tetap hidup dalam keseharian masyarakat.(*)







