Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Kreator konten Jang Hansol atau yang juga dikenal dengan nama Korea Reomit turut menanggapi ramainya perbincangan netizen soal perbandingan UMR Indonesia dengan Korea Selatan.

Diketahui, Hansol pernah menetap di Malang, Jawa Timur, selama 14 tahun, lalu pindah dan tinggal di Jakarta selama 2 tahun. Ia kembali ke Korea Selatan sekitar tahun 2018.

Sebagai seseorang yang pernah tinggal di dua negara tersebut, pria berusia 32 tahun itu mengaku memahami sudut pandang netizen dari masing-masing pihak. Menurutnya, ada perbedaan mengenai definisi 'kesulitan' di antara mereka.

"Aku paham kenapa banyak banget teman-teman di Indonesia itu iri sama UMR di Korea karena orang-orang yang sekarang ada di Indonesia dan memberi suara di internet itu adalah orang-orang yang benar-benar susah untuk hidup," ujarnya dalam unggahan Instagram Reels, Kamis (29/10/2026).

| Baca Juga: Cerita Ayah Syabila Rizkia, Atlet Selam yang Gugur di Ajang Porprov XVII, Jateng

Susah yang dimaksud adalah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup karena upah yang rendah. Sebagian orang dengan gaji di bawah UMR bahkan kesulitan mencukupi kebutuhan paling mendasar, seperti makanan yang layak

Sementara di Korea Selatan, perusahaan yang memberikan karyawannya gaji di bawah upah minimum dapat dilaporkan ke lembaga terkait. Pemerintah akan mengenakan sanksi denda kepada perusahaan yang tidak mengikuti aturan.

"Jadi, orang-orang Korea jarang yang kesusahan karena nggak bisa makan, kelaparan, itu bisa dibilang nggak ada. Ya mungkin ada, tapi persentasenya sangat kecil," jelas Jang Hansol.

Di Negeri Ginseng, kesulitan yang dirasakan oleh masyarakat diakibatkan oleh rasa depresi karena tidak dapat menggapai cita-cita.

| Baca Juga: Viral Ariana Grande Tanya Arti 'Kokopan' Prabowo, Ternyata Ini Faktanya!

"Yang disuarakan sama teman-teman Indonesia adalah di Indonesia dengan UMR itu susah makan, susah untuk melanjutkan hidup," tutur Hansol.

"Di Korea, kenapa banyak orang-orang juga berakhir dengan mengakhiri hidupnya sendiri, meskipun nggak kelaparan, karena orang-orang itu merasakan depresi dan rasa sedih yang begitu besar ketika impiannya ataupun cita-citanya tidak tergapai," tambahnya.

Selain itu, menurut Hansol, masyarakat Korea Selatan juga memiliki standar yang tinggi mengenai kesuksesan. Karenanya, kesulitan netizen Indonesia dengan Korea Selatan tidak bisa disamakan.

"Dua pihak ini memiliki dua standar yang berbeda. Jadi, susah yang dimaksud di Indonesia itu berbeda dengan susah yang dimaksud sama orang-orang Indonesia yang tinggal di sini," ungkapnya.

| Baca Juga: Gara-Gara Meme Diktator, Kontrak Kylian Mbappe Diputus Tiga Perusahaan China

Isu Perbandingan UMR Indonesia vs Korea Selatan

Beberapa waktu terakhir, netizen di berbagai platform media sosial diramaikan dengan pembahasan mengenai perbedaan UMR dan biaya kebutuhan pokok di Indonesia dengan Korea Selatan.

Melansir dari laman Kementerian Tenaga Kerja dan Buruh Republik Korea, upah minimum per jam senilai 10.320 won atau sekitar Rp140 ribu.

Dengan dasar perhitungan standar 40 jam kerja per minggu (8 jam per hari, 5 hari kerja), estimasi gaji pokok bulanan pekerja di Korea Selatan senilai 2.156.880 won atau Rp29,3 juta.

| Baca Juga: Duo Kembar Siam Meninggal setelah Salah Seorangnya Mengalami Serangan Jantung

Sementara di Indonesia, Upah Minimum Provinsi (UMP) tertinggi di Jakarta sebesar Rp5.729.876. UMP terendah di Jawa Tengah senilai Rp2.317.386.

Yang juga menjadi perbandingan adalah harga kebutuhan pokok. Beras seberat 10 kilogram di Korea Selatan dijual seharga 38.000 hingga 45.000 won. Sementara di Indonesia, harga beras dengan berat yang sama mencapai lebih dari Rp100 ribu.

Dengan menggunakan standar yang sama, gaji senilai 2 juta, masyarakat Indonesia membayar dua kali lipat dari warga Korea Selatan untuk beras 10 kg. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: