Lewat Teater GRES!, Sanggar Ori Ungkap Sisi Lain Tradisi Hajatan Keluarga di Pedesaan
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Sebuah hajatan keluarga apalagi di pedesaan, tidak selalu berjalan mudah. Di balik tradisi yang diwariskan turun-temurun, ada persoalan biaya, harapan orangtua, hingga tuntutan lingkungan yang harus dipenuhi.
Dinamika tersebut diangkat Sanggar Ori dari Gunungkidul, Yogyakarta, melalui pertunjukan teater berjudul GRES!.
Mengambil cerita seputar hajatan supitan atau khitanan, GRES! menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan dengan segala persoalan yang menyertainya.
| Baca Juga: Maudy Koesnaedi Pertama Kali Jadi Antagonis, Perankan Sosok Muncikari di Teater
Mulai hubungan keluarga hingga tekanan sosial. Hal itu dikemas dalam komedi keluarga yang menghibur sekaligus menyimpan kritik sosial.
Ceritanya berawal ketika Alif, anak berusia 12 tahun, mengalami insiden tak terduga saat mengenakan celana. Peristiwa tersebut membuat keluarganya harus menghadapi persiapan khitanan secara mendadak.
Siti dan Seno, orangtua Alif, kemudian dihadapkan pada persoalan mencari biaya untuk menyelenggarakan supitan beserta slametan sesuai adat setempat.
| Baca Juga: Teater Satu Lampung Pentaskan 'Musyawarah Burung', Bawa Kritik Sosial Zaman Kini
Dari situasi tersebut, muncul berbagai kerumitan yang memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga harus berhadapan dengan tradisi, kondisi ekonomi, dan harapan masyarakat sekitar yang tidak bisa dipenuhi.
Sutradara Sanggar Ori, Jevi Adhi Nugraha, mengatakan hajatan supitan masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gunungkidul. Tradisi tersebut menyimpan banyak cerita tentang dinamika keluarga dan masyarakat.
“Melalui GRES!, kami ingin mengajak penonton melihat realitas tersebut dari sudut pandang yang lebih ringan melalui komedi keluarga. Tetapi tetap menyimpan ruang refleksi,” ujar Jevi di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (7/11).
| Baca Juga: Keluar dari Zona Nyaman, Marsha JKT48 Kurangi Jadwal Teater Demi Debut Akting
Menggunakan pendekatan teater realis, GRES! menghadirkan suasana pedesaan melalui karakter, dialog, dan latar rumah yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Sebanyak 10 pemain terlibat dalam pertunjukan ini, didukung musik dan tata cahaya untuk membangun suasana serta memperkuat emosi setiap adegan.
Berangkat dari Realitas Masyarakat Lokal
Berdiri sejak 13 September 2013, Sanggar Ori atau Oyod Ringin merupakan ruang pendidikan alternatif sekaligus wadah pengembangan seni dan budaya di Gunungkidul.
| Baca Juga: Keluar dari Zona Nyaman, Marsha JKT48 Kurangi Jadwal Teater Demi Debut Akting
Komunitas ini mengembangkan berbagai bidang kreatif, mulai dari teater, film, musik, hingga seni rupa. Dengan semangat gotong royong, mereka berupaya menghadirkan karya yang berangkat dari realitas lokal.

Dalam pengembangan GRES! melalui program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026, Sanggar Ori mendapat pendampingan mentor kreatif Rangga Buana dan mentor manajemen Pradetya Novitri.
Rangga menilai, kekuatan GRES! terletak pada keberanian kelompok mengangkat pengalaman sehari-hari masyarakat menjadi bahan penciptaan. Tantangannya mengolah pengalaman itu jadi pertunjukan dengan bahasa artistik yang kuat.
| Baca Juga: Diserang Teror Gas Misterius, Band Kotak Hentikan Konser di Tengah Pertunjukan
“Kami mendorong kelompok untuk terus mempertajam pilihan dramatik, karakter, serta hubungan antara humor dan kritik sosial agar pesan karya dapat tersampaikan tanpa kehilangan daya hiburnya,” kata Rangga.
Sementara itu, Pradetya membantu kelompok menyelaraskan gagasan kreatif dengan perencanaan produksi, termasuk pembagian tanggung jawab, pengelolaan waktu, dan pemanfaatan sumber daya.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan Ruang Kreatif Seni Pertunjukan menjadi kesempatan bagi pelaku seni dari berbagai daerah untuk mengembangkan gagasan mereka.
| Baca Juga: Lebih dari Sekadar Pertunjukan, Andrea Bocelli Bakal Tampil di Borobudur Rayakan Tiga Dekade
Selain itu juga memperkuat kapasitas kreatif dan pengelolaan produksi, serta mempertemukan karya mereka dengan penonton.
Melalui GRES!, Sanggar Ori menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan. Di dalamnya terdapat hubungan keluarga, tuntutan sosial, dan persoalan kehidupan yang dapat menjadi bahan refleksi melalui pertunjukan teater.(*)







