Untuk Penderita Kanker, Ini Tips Agar Tetap Produktif Saat Kembali Bekerja
VIVIA MEDIA — Bagi pasien kanker, mencapai fase remisi lima tahun tanpa deteksi ulang sel kanker adalah pencapaian besar. Namun, perjalanan menuju tahap itu terbilang panjang, penuh dengan pengobatan dan kelelahan luar biasa yang disebut cancer fatigue.
Menurut Dr. Tanujaa Rajasekaran, onkolog medis dari Parkway Cancer Centre, kelelahan kanker adalah rasa lelah fisik, emosional, dan kognitif yang terus-menerus dan berlebihan.
Data Cleveland Clinic menyebut kondisi ini dialami 80–100 persen pasien kanker. Bedanya dengan lelah biasa: tidak sebanding dengan aktivitas yang dilakukan, dan tidak hilang meski sudah istirahat cukup. Gejalanya termasuk kabut otak (brain fog), tubuh terasa berat, sulit tidur meski lelah, dan mudah ngos-ngosan saat beraktivitas ringan.
Dr. Amit Jain dari National Cancer Centre Singapore menjelaskan, durasi kelelahan berbeda-beda pada tiap orang. Idealnya, saat pasien sudah dinyatakan sembuh atau selesai menjalani pengobatan aktif, kelelahan akan membaik.
| Baca Juga: Tidak Cukup Jalan Kaki, Ini Dua Kunci Mencegah Sarcopenia
Namun, efek samping jangka panjang dari pengobatan kadang membuat rasa lelah ini bertahan lebih lama. Apalagi, ketika sang pasien memutuskan untuk kembali beraktivitas untuk bekerja.
Penyebab yang Beragam
Semasa aktif, tumor pada kanker menyerap banyak energi tubuh untuk tumbuh, sistem imun melepaskan zat yang memicu peradangan mirip gejala flu berat, dan zat yang sama juga bisa menekan nafsu makan lewat pengaruhnya pada otak. Hal itu membuat tubuh kekurangan bahan bakar.
Belum lagi efek kemoterapi yang menurunkan sel darah merah sehingga oksigen ke otot dan organ berkurang, serta gangguan hormon yang mengacaukan regulasi energi tubuh. Stres, cemas, dan suasana hati yang menurun akibat pengobatan pun bisa memperparah lingkaran kelelahan ini.
Situasi itu yang memengaruhi seorang pasien pascakanker yang kembali bekerja.
Cara Mengatur Energi di Tempat Kerja
Salah satu cara mengatasi hambatan itu adalah mengomunikasikan kondisi ke atasan. Wa Wa Aung, konselor di PCC Gleneagles Hospital, menyarankan penyesuaian sederhana seperti jam kerja fleksibel atau mengurangi tuntutan fisik yang tidak perlu.
| Baca Juga: Studi: Mengasuh Anak Ternyata Ampuh Untuk Kesehatan Otak Ayah
Rebecca Oh dari Strong Olive menambahkan, mengatur perjalanan agar tidak boros energi juga bisa mengurangi dampak kelelahan. Misalnya, menghindari jam sibuk atau parkir sedekat mungkin dengan tempat kerja. Kondisi kelelahan akibat perjalanan sering diabaikan.
Prioritaskan tugas penting di jam-jam energi tertinggi. Bahkan di hari yang terasa bugar, jangan memaksakan diri berlebihan karena bisa berujung pada kelelahan berkepanjangan.
Dr. Irene Teo dari NCCS menyarankan mengganti pertemuan tatap muka dengan panggilan video, memilih ruang rapat yang tenang, mendelegasikan tugas, serta menjadwalkan pengobatan di sore hari atau menjelang akhir pekan agar ada waktu pemulihan.
Kenyamanan fisik juga penting. Beverley Yeo dari 365 Cancer Prevention Society (CPS) merekomendasikan bantal penyangga punggung atau sandaran kaki untuk memperlancar sirkulasi dan mengurangi ketegangan fisik.
| Baca Juga: Bantu Cegah Resistensi Insulin, ini Waktu Terbaik Sarapan Menurut Ahli
Dr. Teo mengibaratkan hari kerja sebagai maraton dengan titik istirahat. Yakni dengan peregangan singkat, minum air, atau jeda lima hingga sepuluh menit. Hal itu sudah cukup mendongkrak energi dan suasana hati.
Keterbukaan ke Rekan Kerja
Terkadang membagikan kondisi sakit kepada atasan atau rekan menjadi pilihan yang sulit bagi penderita kanker. Apalagi ketika pekerjaan harus terjeda untuk melakukan kontrol medis. Mau tidak mau, seorang pasien harus cuti untuk memprioritaskan hal tersebut demi kesehatan.
Jika pasien tidak ingin terlalu terbuka, kalimat sederhana seperti “Saya perlu kontrol medis rutin untuk kondisi tertentu” sudah cukup untuk bisa menjaga hubungan dengan mereka.
Menjaga komunikasi terbuka dengan atasan soal beban kerja dan tenggat waktu juga bisa mengurangi risiko cuti sakit disalahartikan sebagai kurang berkomitmen.
| Baca Juga: Hal yang Boleh dan Dilarang Dalam Merawat Luka Menurut Para Ahli
Cara lain yang bisa dilakukan adalah mendokumentasikan pengaturan kerja baru lewat rekomendasi surat keterangan dokter kepada manajemen. Hal itu agar manajemen bisa menyampaikan kepada tim bahwa ada penyesuaian jam kerja yang resmi tanpa harus membuka detail kondisi pribadi.
Belajar Berbaik Hati pada Diri Sendiri
Kebanyakan orang, dalam hal ini atasan atau rekan kerja, bersedia untuk membantu para pasien kanker yang kembali bekerja. Dalam hal ini, bantuan tersebut sebaiknya diterima sebagai strategi sementara agar tubuh bisa fokus pulih, bukan tanda kehilangan kemandirian.
Merayakan kemenangan kecil, bahkan sekadar bangun dari tempat tidur, dan mengganti kritik diri dengan respons yang lebih suportif juga dinilai efektif untuk membangun semangat pasien kanker untuk kembali bekerja. (*)







