"Tapi ada juga panggung yang memang kami bangun sendiri untuk kebutuhan set," kata Ernest.

Investasi Besar dan Konsekuensi Logistik

Ernest Prakasa tidak menampik bahwa Operasi Pesta Copet merupakan proyek dengan anggaran terbesar yang pernah digelontorkan oleh Imajinari hingga saat ini. Baginya, kualitas visual dan skala film ini tidak bisa dikompromi atau dikurangi spesifikasinya (spec down).

"Pilihannya cuma dua: dikerjakan atau tidak. Kalau mau dikerjakan, ya harus sesuai spesifikasinya. Ini merupakan budget paling mahal bagi Imajinari, tapi rasanya lebih menyesal kalau kita tidak mencoba," tegas Ernest.

| Baca Juga: Debut Produser, Elma Theana Angkat Kisah Nyata Perjuangan Adik Lewat Film ‘Anak-Anak Bambu’

Kerja sama ini juga menuntut penyesuaian teknis yang signifikan dari pihak Boss Creator selaku penyelenggara Pestapora. Ucup, dari Boss Creator, menjelaskan bahwa demi kebutuhan film pembangunan panggung harus dipercepat.

"Biasanya panggung siap di H-2 atau H-3, tapi demi film ini, H-4 panggung sudah harus berdiri tegak. Kru harus bekerja mengikuti timeline film ini," tutur Ucup.

Selain itu, proses pembongkaran panggung (loading out) juga harus ditunda selama beberapa hari setelah festival berakhir karena lokasi masih digunakan untuk pengambilan gambar. Penyesuaian jadwal dan kerja ekstra kru ini tentu diiringi dengan kompensasi anggaran ekstra dari pihak produksi film.

"Ada adegan-adegan yang seolah-olah terjadi di tengah konser, padahal kita syuting itu sebelum konser dimulai. Panggungnya sudah asli, tapi kita bawa 500 orang ekstra (figuran) untuk adegan nyopet. Enggak mungkin kan kita nyopet beneran di tengah konser asli demi syuting, nanti digebukin massa," tutup Ernest. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: