Dari Drummer ke Kursi Sutradara, Edy Khemod Jalani Debut di Film 'Operasi Pesta Copet'
VIVIA MEDIA — Industri perfilman tanah air siap menyambut talenta baru. Edy Khemod, sosok yang selama ini dikenal sebagai penabuh drum band metal Seringai, resmi debut sebagai sutradara film layar lebar 'Operasi Pesta Copet'.
Meski ini adalah film panjang pertamanya, pria yang akrab disapa Khemod ini bukanlah orang baru di balik lensa. Ia telah mengantongi pengalaman selama dua dekade menyutradarai iklan, video klip, hingga menjadi creative director di rumah produksi Cerahati.
Menyutradarai film dengan latar festival musik berskala besar tentu bukan perkara mudah. Namun, bagi Khemot, tantangan teknis tersebut berhasil diatasi berkat persiapan yang sangat matang. Ia memuji kinerja tim asisten sutradara (Astrada) dan seluruh kru yang terlibat dalam proyek ini.
"Sebenarnya kalau di festivalnya sendiri, menurut saya semuanya cukup terukur. Alhamdulillah, kita bekerja sama dengan tim yang sangat bagus. Ini adalah salah satu proses persiapan syuting terbaik yang pernah saya alami," ujar Khemod saat ditemui di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026).
| Baca Juga: Item, Kurus bak 'Pria dari Ciputat', Penampilan Iqbaal di Trailer Film 'Operasi Pesta Copet'
Berbekal pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia periklanan dan pembuatan video klip yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi, Khemod merasa proses syuting film ini justru jauh lebih tertata. Keberhasilan koordinasi tim terbukti dari efisiensi waktu produksi.
Dari jadwal yang semula ditetapkan selama 24 hari, tim berhasil merampungkan seluruh adegan hanya dalam waktu 22 hari.
Keunggulan Sutradara: Jaringan Luas dan Insting Musisi
Saat ditanya mengenai nilai lebih yang ia bawa ke kursi sutradara, Khemod menekankan pada latar belakangnya sebagai show director pertunjukan musik. Pengetahuan logistik dan jaringan di industri musik menjadi modal utama yang tidak dimiliki banyak sutradara film lainnya.
"Menurut saya, saya lebih mengerti musik dibanding yang lain. Karena saya punya pengalaman lama sebagai show director, itu jadi modal besar. Saya bisa memakai panggung pada H-3 sebelum acara karena saya kenal dengan tim yang membangun panggungnya (stage builder)," jelasnya.
| Baca Juga: Ria SW Debut Akting di Film Terbaru Baim Wong, ‘Minal Aidin Mohon Maaf Minta Rizki’
Khemod berkelakar bahwa faktor usia dan kumpulan pengalamannya memberikan keuntungan tersendiri dalam menavigasi produksi berskala besar yang melibatkan infrastruktur festival yang rumit.
Alasan Memilih Imajinari: Kepercayaan pada Ernest Prakasa
Dalam debutnya sebagai sutradara Khemod menjatuhkan pilihannya pada rumah produksi Imajinari, yang dikenal berkat mencetak film box office Agak Laen.
Keputusan ini didasari oleh keinginan kuat untuk belajar dari sosok yang tepat. Ia mengaku memiliki kepercayaan penuh pada rekam jejak Ernest Prakasa dalam pengembangan cerita dan drama.
"Sederhana saja, karena cuma Ernest yang saya kenal. Saya tahu niat saya di sini adalah untuk belajar. Saya butuh partner yang bisa diajak diskusi dengan nyaman," ujarnya.
| Baca Juga: Diana Pungky Debut Layar Lebar Lewat Film ‘5 cm: Revolusi Hati’
Pria kelahiran 1 Juni ini bahkan menegaskan bahwa jika Ernest menolak proyek ini, ia tidak membayangkan akan menawarkan naskah tersebut ke pihak lain.
"Saya sangat percaya pada Ernest soal pengembangan cerita dan apa yang membuat sebuah film menjadi bagus," lanjut Khemod.
Kolaborasi Strategis dengan Festival Pestapora
Produser Dipa Andika mengungkapkan bahwa ide film ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2023, terinspirasi dari keresahan Khemot terhadap fenomena pencopetan yang marak terjadi di konser musik.
Setelah melalui diskusi panjang, diputuskan bahwa film ini akan mengambil lokasi syuting di festival musik asli, yaitu Pestapora, demi menjaga otentisitas tanpa harus membangun festival buatan yang memakan biaya selangit.
| Baca Juga: Debut Main Film, Ini Cerita Fiki Naki Saat Ikut Casting 'Paket Santet'
Ernest Prakasa mengakui bahwa syuting di tengah keramaian puluhan ribu penonton adalah tantangan luar biasa. Strategi yang diambil adalah melakukan syuting sebelum, saat berlangsung, hingga sesudah festival Pestapora selesai.
"Tapi ada juga panggung yang memang kami bangun sendiri untuk kebutuhan set," kata Ernest.
Investasi Besar dan Konsekuensi Logistik
Ernest Prakasa tidak menampik bahwa Operasi Pesta Copet merupakan proyek dengan anggaran terbesar yang pernah digelontorkan oleh Imajinari hingga saat ini. Baginya, kualitas visual dan skala film ini tidak bisa dikompromi atau dikurangi spesifikasinya (spec down).
"Pilihannya cuma dua: dikerjakan atau tidak. Kalau mau dikerjakan, ya harus sesuai spesifikasinya. Ini merupakan budget paling mahal bagi Imajinari, tapi rasanya lebih menyesal kalau kita tidak mencoba," tegas Ernest.
| Baca Juga: Debut Produser, Elma Theana Angkat Kisah Nyata Perjuangan Adik Lewat Film ‘Anak-Anak Bambu’
Kerja sama ini juga menuntut penyesuaian teknis yang signifikan dari pihak Boss Creator selaku penyelenggara Pestapora. Ucup, dari Boss Creator, menjelaskan bahwa demi kebutuhan film pembangunan panggung harus dipercepat.
"Biasanya panggung siap di H-2 atau H-3, tapi demi film ini, H-4 panggung sudah harus berdiri tegak. Kru harus bekerja mengikuti timeline film ini," tutur Ucup.
Selain itu, proses pembongkaran panggung (loading out) juga harus ditunda selama beberapa hari setelah festival berakhir karena lokasi masih digunakan untuk pengambilan gambar. Penyesuaian jadwal dan kerja ekstra kru ini tentu diiringi dengan kompensasi anggaran ekstra dari pihak produksi film.
"Ada adegan-adegan yang seolah-olah terjadi di tengah konser, padahal kita syuting itu sebelum konser dimulai. Panggungnya sudah asli, tapi kita bawa 500 orang ekstra (figuran) untuk adegan nyopet. Enggak mungkin kan kita nyopet beneran di tengah konser asli demi syuting, nanti digebukin massa," tutup Ernest. (*)







