Di Balik IQ 145 Ashton Alexander, Ada Orang Tua yang Tak Pernah Berhenti Belajar
“Kita tidak membatasi, ‘kamu hanya coba ini atau itu’. Kita berusaha memperkenalkan berbagai macam bidang. Nanti kita lihat Ashton ternyata minatnya ada di mana. Itu yang paling penting bagi kami sebagai orang tua,” kata Budi.
Dari proses tersebut, mereka perlahan menemukan bahwa rasa ingin tahu Ashton berkembang sangat luas. Pada awalnya, keluarga hanya melihat kemampuan matematika yang menonjol. Namun, setelah diberikan ruang untuk mengeksplorasi berbagai hal, muncul ketertarikan baru di bidang lain.
| Baca Juga: Misi Lari 21 Km Penyintas Thalassemia, Demi Sebarkan Edukasi soal Penyakit Darah Genetik
“Awalnya kita hanya melihat kemampuan Ashton lebih di matematika. Tetapi setelah terus dieksplorasi, ternyata minatnya berkembang ke banyak bidang lain,” ujar Budi.
Orang Tua Ikut Belajar
Budi menyadari bahwa kemampuan anak dapat berkembang sangat cepat. Karena itu, orang tua juga harus memiliki kemauan untuk terus belajar.
Budi bahkan kembali mempelajari berbagai materi, termasuk matematika, agar dapat mengikuti pembicaraan dan menjadi teman berdiskusi bagi putranya.
“Kalau anak maju sementara orang tuanya berhenti belajar, anak itu juga bisa berhenti berkembang. Karena itu kami harus ikut mengimbangi Ashton. Saya juga belajar lagi, mencari materi-materi baru supaya rasa ingin tahunya tetap terjaga,” tuturnya.
| Baca Juga: Talitha Shahiza, Wanita Asal Gresik Tekuni Profesi Caster E-Sport yang Jarang Digeluti
Marlene mengatakan, sejak usia dua tahun, Ashton sudah menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap angka. Saat menikmati makanan ringan, misalnya, Ashton sering menghitung sendiri jumlah makanan yang ada di dalam kemasan. Ia bahkan mulai melakukan operasi hitung sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan tanpa diarahkan.
“Karena kami melihat ada potensi dalam diri Ashton, kami kemudian mulai memberikan stimulasi dengan mengajarkan konsep-konsep dasar matematika,” kata Marlene.
Perkembangannya berlangsung cepat. Pada usia tiga tahun, Ashton mulai memahami konsep perkalian. Setahun kemudian, ia sudah mengenal konsep kuadrat dan akar.







