Di Balik IQ 145 Ashton Alexander, Ada Orang Tua yang Tak Pernah Berhenti Belajar
Melihat perkembangan tersebut, Budi dan Marlene memutuskan berkonsultasi dengan psikolog untuk memahami karakter belajar Ashton secara lebih mendalam.
“Kami sangat terbantu dengan arahan dari psikolog,” ujar Marlene.
| Baca Juga: Kisah Cucu Pakai Gaun Pengantin Mendiang Nenek dari Tahun 60-an di Hari Pernikahan
Dari proses pendampingan tersebut, keluarga memahami bahwa Ashton merupakan anak gifted dengan gaya belajar kinestetik. Ia tidak selalu cocok dengan metode belajar yang mengharuskannya duduk diam dalam waktu lama. Sebaliknya, ia lebih mudah memahami sesuatu melalui eksplorasi dan pengalaman langsung.
“Biasanya setelah belajar sendiri, nanti dia akan menulis lagi di kertas atau buku. Setelah itu baru dia berdiskusi dengan kami,” ungkap Marlene.
Memberi Kebebasan, Bukan Membiarkan Tanpa Arah
Meski dikenal memiliki banyak kemampuan, keseharian Ashton tidak berjalan dengan jadwal belajar yang penuh tekanan. Budi dan Marlene justru memberikan ruang bagi putranya untuk mengatur ritme aktivitasnya sendiri.
Menurut Budi, Ashton memiliki kemampuan untuk mengenali kapan dirinya membutuhkan fokus dan kapan harus beristirahat.
| Baca Juga: Terinspirasi Pandawara Group, 4 Bocah SD Ini Bikin Kelompok Bersih-bersih Lingkungan
Ketika sedang mengerjakan sesuatu yang disukai, seperti coding atau mengembangkan proyek berbasis artificial intelligence (AI), Ashton dapat berkonsentrasi dalam waktu lama. Namun, ketika mulai merasa lelah, ia akan beralih ke aktivitas lain yang juga ia sukai.
“Kalau dia lagi mengerjakan AI, misalnya, lalu mulai capek atau bosan, dia bisa langsung pindah ke pianonya dan bermain musik. Dia sendiri yang mengatur kapan harus berganti aktivitas,” ujar Budi.
Ashton juga merasa kebebasan tersebut membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan. Ia mengaku tidak merasa terbebani meski harus membagi waktu antara matematika, coding, musik, dan berbagai aktivitas lainnya.







