Debut Layar Lebar Langsung Tokoh Utama di 'Dan Bandung', Shanna Shannon Sempat Nervous
VIVIA MEDIA — Dunia seni peran Tanah Air kedatangan talenta baru yang berangkat dari dunia tarik suara, Shanna Shannon. Penyanyi muda berbakat ini memulai debut layar lebarnya melalui film 'Dan Bandung'.
Film ini bukan sekadar proyek biasa, melainkan sebuah karya adaptasi dari novel Pidi Baiq, yang diarahkan langsung oleh sutradara kenamaan Rudi Soedjarwo.
Dan Bandung menceritakan kisah cinta beda kasta antara Basil dan Elma, perjuangan hidup di tengah luka masa lalu, serta perjalanan emosional yang berlatar keindahan Kota Bandung.
Awal Mula Terpilih Menjadi Elma
Perjalanan Shannon menuju layar lebar bermula dari komunikasi antara pihak rumah produksi dengan ibu, yang juga merangkap sebagai manajernya. Shannon mengungkapkan bahwa tawaran untuk mengikuti proses casting film Dan Bandung datang di saat yang tepat.
| Baca Juga: Dari Drummer ke Kursi Sutradara, Edy Khemod Jalani Debut di Film 'Operasi Pesta Copet'
"Awalnya itu aku dikontak melalui mama aku, karena mama kan manajer aku juga. Mama dikontak, katanya ada permintaan untuk aku ikut casting film Dan Bandung," ujar Shannon saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (29/7/2026).
Gadis kelahiran Jakarta, 20 tahun lalu ini mengaku langsung terpikat begitu mendengar judul film tersebut. Baginya, Bandung adalah simbol romantisme yang tak lekang oleh waktu.
"Aku pastinya langsung tertarik ya, karena judulnya saja sudah Dan Bandung, apalagi katanya ini film romance. Memang Bandung itu ikonik sebagai film romance, apalagi ini adaptasi dari novel Ayah Pidi dan Om Rudi, jadi pasti langsung mau," tambahnya.
Melawan Sifat Introvert di Ruang Casting
Sebagai seorang penyanyi yang dikenal memiliki karakter pemalu, Shannon mengakui bahwa melangkah ke dunia akting adalah sebuah tantangan besar. Meskipun sering mendapat tawaran di masa lalu, baru kali ini ia memberanikan diri untuk mencoba.
| Baca Juga: Sana TWICE Debut Aktris, Bintangi Film 'Nyangi' Bareng Aktor Jepang Takeru Satoh
"Pastinya nervous banget. Aku kan sebenarnya penyanyi, dan memang dari dulu sering ditawarin main film, tapi aku sendiri karena anaknya pemalu, jadi belum bisa memberanikan diri untuk mencoba casting," ungkapnya jujur.
Namun, demi Dan Bandung, Shannon memilih untuk keluar dari zona nyaman. Sebagai seorang introvert, ia harus berjuang ekstra keras saat berhadapan dengan tim produksi di ruang casting.
"Aku harus memberanikan diri aku dengan sepenuh tenaga. Sebagai introvert, untuk memberanikan diri ya harus memaksakan diri saja untuk mencoba. Aku harus all out saat casting karena itu butuh effort, kita harus lihat skrip dan memerankan karakter lain," jelasnya.
Membangun Chemistry Lewat 'Deep Talk'
Salah satu tantangan terbesar dalam film drama romantis adalah membangun chemistry dengan lawan mainnya, Samo Rafael, yang berperan sebagai Basil. Apalagi di film ini mereka banyak melakoni adegan romantis. Shannon, sempat mengalami kesulitan di awal pertemuan karena sifat keduanya yang cenderung tertutup.
| Baca Juga: Film 'Monster Pabrik Rambut' Borong Tiga Penghargaan di Dua Festival Film Internasional
"Seperti yang Om Rudi bilang tadi, akhirnya aku dan Abun disuruh naik ke atas, dan kita mulai deep talk saja. Karena kita sama-sama introvert ya, jadi kita enggak bisa yang ketemu sekali langsung dapat chemistry-nya, harus pelan-pelan," kenang Shannon.
Intensitas pertemuan yang tinggi selama satu bulan masa persiapan menjadi kunci cairnya hubungan mereka.
"Karena kita ketemu setiap hari selama satu bulan untuk simulasi, jadi lebih dekat, lebih nyaman, dan chemistry-nya terbangun sendiri," kata pelantun lagu Sang Dewi ini.
Menanggung Beban Berat dari Nama-Nama Besar
Pengalaman syuting perdana ini memberikan banyak pelajaran baru bagi Shannon, terutama melalui metode simulasi yang diterapkan oleh sutradara Rudi Soedjarwo.
| Baca Juga: Cetak Sejarah! Agnez Mo dan Anggun Tampil Memukau di Panel Utama San Diego Comic-Con
Berbeda dengan proses reading pada umumnya, simulasi memberikan gambaran nyata bagi pemain sebelum benar-benar beraksi di depan kamera.
"Menurut aku, simulasi itu sangat berkesan karena itu pengalaman yang aku belum pernah alami sebelumnya. Aku belajar banyak tentang akting langsung dari Om Rudi, apalagi selama ini aku enggak pernah ikut les akting atau apa pun," tuturnya.
Menjadi pemeran utama dalam film debut yang ditangani oleh orang-orang besar di industri film memberikan beban tersendiri bagi mahasiswi jurusan psikologi ini. Shannon merasa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak mengecewakan tim produksi dan pembaca novel aslinya.
"Bebannya sangat berat buat aku karena aku masuk ke pengalaman ini dengan pengalaman nol tentang akting. Apalagi ada nama-nama besar seperti Om Rudi dan Ayah Pidi, pastinya aku ingin menampilkan yang terbaik," kata Shannon.
| Baca Juga: Bujet Minim Untung Besar, Film Horor 'Obsession' Sukses Raup Triliunan Rupiah
Pelantun lagu 'Kehilanganmu' ini selalu mengingat satu pesan kunci dari Rudi Soedjarwo yang menjadi pegangannya selama syuting.
"Om Rudi itu sangat detail. Salah satu yang paling aku ingat di awal simulasi, Om Rudi bilang: 'You have to believe what you say'. Karena kalau aku percaya dengan apa yang aku omongkan, orang lain juga akan percaya dengan karakter Elma," jelasnya.
Perbedaan Drastis Antara Menyanyi dan Akting
Memiliki latar belakang sebagai penyanyi, Shannon merasakan perbedaan signifikan saat harus masuk ke dalam sebuah karakter film. Jika dalam menyanyi emosi bisa berubah di setiap lagu, dalam film, emosi karakter harus dijaga dalam waktu yang lama.
"Penyanyi itu cuma pakai feeling, setiap lagu beda feeling. Tapi kalau main film, kita benar-benar harus menjadi satu karakter selama berbulan-bulan dan mempelajari A sampai Z-nya, jalan pikirannya seperti apa. Itu lebih menantang," jelasnya.
| Baca Juga: Kata Benny Safdie Usai Aura Farming Agamemnon ‘The Odyssey’ Viral
Meskipun secara kepribadian merasa mirip dengan tokoh Elma, Shannon mengaku kesulitan saat harus berhadapan dengan adegan konflik keluarga. Hal ini dikarenakan latar belakang keluarganya di dunia nyata berbanding terbalik dengan keluarga Elma di dalam film.
"Adegan yang paling susah itu scene-scene berat Elma dengan keluarganya, karena itu konflik utamanya. Aku sangat dekat dengan keluarga aku, sementara di film ini aku harus menciptakan dinamika keluarga yang enggak dekat tapi harus.terlihat natural. Itu tantangan banget buat koordinasi sama Om Donny dan Tante Jenny yang jadi orang tua aku," paparnya.
Di sela-sela jadwal syuting yang padat, Shannon menikmati momen-momen santai bersama pemain lain di basecamp. Menariknya, ia sering berbagi jajanan oleh rekan kerjanya, Keisya Levronka.
"Biasanya kita mengobrol saja atau main kartu di basecamp. Waktu syuting di Bandung, teman-teman lain suka jalan-jalan, tapi aku biasanya di mobil saja mengobrol sama Keisya. Keisya itu suka jajan, jadi aku biasanya dikasih jajan dan kita sharing makanan di mobil," cerita Shannon sambil tersenyum. (*)







