Kisah Nyata Film ‘Baby Udon’: Perjalanan Cinta Emosional Bos Marugame Indonesia dengan Seorang Kasir
VIVIA MEDIA — Film ‘Baby Udon’ menjadi momentum penting bagi rumah produksi Sumargo Films karena itu merupakan proyek pertama mereka yang produksinya dipimpin langsung oleh aktor sekaligus podcaster, Denny Sumargo.
Garapan sutradara Fajar Bustomi yang berkolaborasi dengan LYTO PIctures itu diangkat dari kisah nyata viral yang menyentuh hati. Tentang perjuangan Fanny Kondoh bersama almarhum suaminya, mantan CEO PT Sriboga Marugame Indonesia, Hajime Kondoh.
Kisahnya menyorot perjalanan asmara mereka yang emosional hingga perjuangan keduanya dalam menjalani IVF (in vitro fertilization) alias bayi tabung.
| Baca Juga: Yoko Morishita, Ballerina Tertua di Dunia Masih Aktif Manggung di Usia 77 Tahun
Kisah Nyata Film ‘Baby Udon’
Dalam salah satu wawancaranya pada 2025, Fanny Kondoh menceritakan awal pertemuannya dengan almarhum Hajime Kondoh terjadi di salah satu restoran Marugame Udon cabang Semarang pada 2015.
Fanny menyatakan, tidak ada yang istimewa dari pertemuan tersebut. Ia hanya menyapa almarhum sebagai kasir dengan kemampuan bahasa Inggris seadanya.
Namun entah mengapa, ia langsung memiliki feeling bahwa pria Jepang itu kelak akan menjadi suaminya.
“Pas pertama kali salaman, aku langsung batin ‘Dia sepertinya akan menjadi suamiku’. Aku sudah yakin,” ucapnya, dilansir dari kanal YouTube Denny Sumargo.
| Baca Juga: Marlina Chlara Sesa, Wanita Papua Pertama yang Kantongi Lisensi Pesawat Airbus A320
Perasaan itu muncul bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Fanny telah mengalami sejumlah kegagalan hubungan asmara.
Tidak hanya itu, setelah kenal beberapa saat, almarhum kerap memberikan perhatian khusus pada Fanny. Salah satunya mendapat promosi pekerjaan, sehingga ia dikirim ke Jakarta.
Sempat mengira bahwa pemindahannya ke Jakarta karena masalah pekerjaan, almarhum Hajime Kondoh justru melamarnya.
Fany tidak langsung percaya saat itu, tapi ia bersedia menjalin hubungan asmara dengan almarhum. Tak disangka, Hajime justru semakin menunjukkan keseriusannya.
Pria itu bahkan datang ke Probolinggo, kampung halaman Fanny, untuk melamarnya secara resmi.
| Baca Juga: Sosok Suami Celine Evangelista Dibongkar Sahabat
Namun perjalanan menuju pernikahan tidaklah mudah. Selain karena perbedaan usia yang mencapai 25 tahun, status almarhum sebagai duda 3 anak, dan perbedaan agama menjadi penghalang.
Ajaibnya, entah bagaimana almarhum Hajime Kondoh mendapat hidayah dan bersedia menjadi mualaf.
“Persiapan akad itu, dia sebetulnya belum mau mualaf. Tapi tiba-tiba demam lima hari, dibawa ke rumah sakit masih demam. Aku bilang, ‘Aku ingin kita bukan hanya bersama di dunia ini, tapi di akhirat juga. Aku pengin kita masuk surga yang sama,’” cerita Fanny.
Hajime Kondoh akhirnya resmi menjadi mualaf pada 2017. Di tahun itu juga mereka menikah.
Namun lagi-lagi, mereka harus menghadapi tantangan berat karena sulit mendapatkan anak. Proses bayi tabung yang mereka jalani terus gagal.
| Baca Juga: Denny Sumargo Main di Film Baby Udon, Angkat Kisah Viral Fanny Kondoh
Hati Fanny semakin hancur ketika di tengah proses bayi tabung, suaminya divonis mengidap kanker.
Di akhir hayatnya, Hajime sempat berpesan kepada istrinya dan berdoa agar proses bayi tabung yang mereka jalani berhasil.
“Ketika dia sakaratul maut, itu dari pagi, tensinya terus turun. Dia pegang perut aku dan bilang, ‘Ya Allah, lindungilah anak dan istriku, aku nggak apa-apa kalau pergi, tapi lindungi istri dan anakku,’” kata Fanny, meniru kata-kata terakhir suaminya.
Hajime Kondoh meninggal dunia pada 15 Oktober 2024. Tak lama setelahnya, Fanny dinyatakan hamil. (*)







