"Kami tidak hanya memeriksa anak-anak, tetapi juga membangun kesadaran di lingkungan sekolah. Guru dan orang tua adalah garda terdepan. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa mengenali gejala awal dan segera mengambil tindakan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan generasi penerus bangsa," kata Iwet.

Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Annisa Pohan Yudhoyono, menambahkan bahwa deteksi dini menjadi kesempatan untuk mencegah anak mengalami kecacatan maupun kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

| Baca Juga: Alyssa Soebandono Idap Skoliosis Sejak 2006, Kenali 5 Kebiasaan Buruk Ini

"Kami tidak ingin ada orang tua yang baru mengetahui anaknya mengidap Penyakit Jantung Rematik ketika sudah terlambat. Dengan mendeteksi penyakit sejak dini, kita dapat melindungi anak-anak dari kecacatan permanen dan kematian dini," tegas Annisa.

Seluruh hasil skrining dari Kabupaten Bekasi bersama data dari Malang, Tulang Bawang, dan Minahasa Utara akan dianalisis secara komprehensif dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Hasil tersebut diharapkan menjadi dasar rekomendasi kebijakan pelaksanaan skrining PJR di sekolah-sekolah Indonesia secara lebih luas.

Melalui program ini, YJI berupaya memastikan anak-anak usia sekolah, kelompok yang paling rentan terhadap PJR, mendapatkan akses deteksi dini sebelum penyakit berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.

Program ini sekaligus menjadi model bagaimana kolaborasi antara lembaga kesehatan, sekolah, dan keluarga dapat menekan angka kasus PJR yang selama ini banyak terlewat karena minimnya gejala pada tahap awal. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: