Deteksi Dini Penyakit Jantung Rematik, YJI Skrining 8.000 Anak SD
VIVIA MEDIA — Yayasan Jantung Indonesia (YJI) menjalankan Program Nasional Skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR) di empat daerah prioritas, yakni Malang, Tulang Bawang, Kabupaten Bekasi, dan Minahasa Utara.
Program ini menyasar anak usia sekolah dasar yang berada pada kelompok paling rentan terhadap penyakit tersebut.
Di Kabupaten Bekasi, skrining tahap pertama dilakukan terhadap 958 siswa kelas 5 dan 6 sekolah dasar menggunakan alat ekokardiografi portabel. Pemeriksaan ini menjadi bagian dari target skrining terhadap sekitar 8.000 anak usia sekolah dasar di seluruh Indonesia.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah sekaligus Ketua Bidang Medis dan Project Director Rheumatic Heart Disease Screening YJI, dr. Ario Soeryo Kuntjoro, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, menjelaskan alasan kelompok usia sekolah menjadi sasaran utama program ini.
| Baca Juga: Annisa Pohan Minta Anak Muda Waspada, Usia Produktif Kian Rawan Sakit Jantung
"Skrining di sekolah sangat krusial karena kelompok usia 5–15 tahun adalah yang paling rentan terhadap PJR. Dengan deteksi dini, kita bisa mencegah kerusakan jantung permanen dan memberikan intervensi sebelum terlambat. Kehadiran kami di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari dengan 958 anak yang diskrining adalah bagian dari upaya besar untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari program ini," jelas dr. Ario di Jakarta pada Senin (3/8/2026).
PJR sendiri merupakan gangguan katup jantung yang muncul sebagai komplikasi demam rematik akibat infeksi bakteri Streptococcus pada tenggorokan.
Penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga lebih dari separuh kasus baru diketahui setelah memasuki stadium lanjut, ketika kerusakan pada katup jantung umumnya sudah permanen.
Karena itulah, skrining sejak dini melalui pemeriksaan ekokardiografi dinilai penting untuk menemukan kelainan bahkan saat anak masih tampak sehat.
| Baca Juga: Tanpa Gejala Bukan Berarti Sehat, Ini Pentingnya Deteksi Dini Hepatitis
Selain pemeriksaan kesehatan, kegiatan skrining ini juga disertai edukasi kepada guru dan orang tua mengenai gejala awal PJR, pentingnya pengobatan infeksi tenggorokan secara tuntas, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan di rumah.
Ketua Bidang Komunikasi sekaligus Project Leader Rheumatic Heart Disease Screening YJI, Iwet Ramadhan, mengatakan peningkatan pemahaman masyarakat menjadi bagian penting dari upaya pencegahan penyakit ini.
"Kami tidak hanya memeriksa anak-anak, tetapi juga membangun kesadaran di lingkungan sekolah. Guru dan orang tua adalah garda terdepan. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa mengenali gejala awal dan segera mengambil tindakan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan generasi penerus bangsa," kata Iwet.
Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Annisa Pohan Yudhoyono, menambahkan bahwa deteksi dini menjadi kesempatan untuk mencegah anak mengalami kecacatan maupun kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
| Baca Juga: Alyssa Soebandono Idap Skoliosis Sejak 2006, Kenali 5 Kebiasaan Buruk Ini
"Kami tidak ingin ada orang tua yang baru mengetahui anaknya mengidap Penyakit Jantung Rematik ketika sudah terlambat. Dengan mendeteksi penyakit sejak dini, kita dapat melindungi anak-anak dari kecacatan permanen dan kematian dini," tegas Annisa.
Seluruh hasil skrining dari Kabupaten Bekasi bersama data dari Malang, Tulang Bawang, dan Minahasa Utara akan dianalisis secara komprehensif dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Hasil tersebut diharapkan menjadi dasar rekomendasi kebijakan pelaksanaan skrining PJR di sekolah-sekolah Indonesia secara lebih luas.
Melalui program ini, YJI berupaya memastikan anak-anak usia sekolah, kelompok yang paling rentan terhadap PJR, mendapatkan akses deteksi dini sebelum penyakit berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.
Program ini sekaligus menjadi model bagaimana kolaborasi antara lembaga kesehatan, sekolah, dan keluarga dapat menekan angka kasus PJR yang selama ini banyak terlewat karena minimnya gejala pada tahap awal. (*)






