VIVIA MEDIA — Bagi AI Visual Director sekaligus Founder Imajik, Brillian Fairiandi, kecerdasan artifisial atau AI bukan pengganti kreativitas. Brillian menilai AI sebagai ruang untuk mengembangkan gagasan dan menerjemahkan inspirasi dari dunia nyata menjadi karya digital.

Ia menegaskan hal itu dalam creative workshop Airena Kreatif yang diselenggarakan IM3 x Adobe Express di The Brickhall Fatmawati, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, Indonesia adalah sumber inspirasi yang hampir tidak ada habisnya. Budaya, tradisi, sejarah, hingga keberagaman visual di berbagai daerah menyimpan banyak cerita yang bisa diterjemahkan ke bentuk baru.

"Indonesia punya banyak budaya dan keberagaman, cerita yang sangat menarik untuk diangkat," ujarnya.

| Baca Juga: Ini 7 Cara Kreator Mengubah Kreativitas Menjadi Penghasilan dengan Bantuan AI

Melihat Lebih dari Sekadar Objek

Brillian mencontohkan salah satu eksperimennya, yakni membayangkan ulang pertunjukan teater Nusantara melalui berbagai elemen visual dan efek berbasis AI. Bagi dia, sebuah objek tidak selalu diperlakukan sekadar sebagai objek.

Bangunan tua bisa membawa cerita tentang sebuah zaman, pakaian tradisional bisa jadi pintu masuk memahami identitas budaya, dan pertunjukan tradisional menyimpan cerita, karakter, serta suasana di baliknya.

Dari titik itu, kreator perlu bertanya apa yang menarik dari sebuah hal, cerita apa yang ingin disampaikan, dan bagaimana menerjemahkannya ke bahasa visual yang dekat dengan audiens hari ini.

"Cara kita mengedukasi generasi generasi selanjutnya melalui visual yang disesuaikan dengan AI benar benar bisa menjadi sesuatu yang positif," kata Brillian.

| Baca Juga: Dari Kehilangan Kerja Jadi Konten: Kisah Keluarga SaDhis Membangun Keseimbangan

AI Sebagai Ruang Eksperimen

Brillian menegaskan AI tidak seharusnya diposisikan sebagai pencipta tunggal. Teknologi hanya alat yang membantu kreator melihat kemungkinan yang sebelumnya sulit diwujudkan.

"AI doesn't kill everyone. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kita punya capability lebih, kita punya ruang, punya ide yang lebih jauh, lebih besar kalau kita bisa menggunakan teknologi ini," katanya.

Dengan bantuan AI, satu gagasan bisa dicoba dalam berbagai bentuk. Warna bisa diubah, suasana dibuat berbeda, elemen tertentu ditambah atau dihilangkan untuk menemukan komposisi paling sesuai.

Namun eksperimen bukan berarti menerima begitu saja semua hasil yang diberikan teknologi. Justru di situlah kreativitas manusia bekerja, yaitu melihat setiap hasil secara kritis, membandingkannya dengan gagasan awal, lalu menentukan bagian mana yang layak dikembangkan.

| Baca Juga: Tak Hanya Religi, Ini Deretan Destinasi Non Religi dan Tips Wisata di Arab Saudi

Gagasan yang Jelas, Hasil yang Terarah

Menurut Brillian, kemampuan menggunakan AI kerap dikaitkan dengan kemampuan membuat prompt.

Padahal persoalannya lebih mendasar, yaitu seberapa jelas gagasan yang ingin diwujudkan. Referensi warna, tekstur, karakter, suasana, hingga gaya visual membantu memperjelas arah karya sebelum kreator memberi instruksi kepada AI.

Ia juga mengingatkan agar kreator tidak terpaku pada hasil pertama. Ada gambar yang secara teknis menarik tapi tidak punya cerita, ada pula visual yang sesuai referensi tapi lemah dari sisi komposisi.

Karena itu, proses memilih menjadi sama pentingnya dengan proses menghasilkan. Kreator perlu berani mengulang, mengubah instruksi, mengganti referensi, atau menggabungkan beberapa hasil sekaligus.

| Baca Juga: Erling Haaland Bikin Pangling! Rambut Gondrong Ikoniknya Kini Dipangkas Cepak

Bagian dari Perjalanan Panjang Teknologi Kreatif

Brillian membandingkan kemunculan AI dengan teknik rotoscope yang dikembangkan Max Fleischer pada 1919, teknik yang pada masanya turut mengubah cara orang membuat karya visual. Baginya, AI berada dalam perjalanan serupa.

"Teknologi ini baru dan lebih pintar. Yuk kita coba maksimalin," ujarnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi, sebuah karya tetap berawal dari manusia. AI membantu menerjemahkan gagasan, namun manusia yang menentukan apa yang ingin disampaikan, mulai dari budaya, sejarah, hingga hal kecil di sekitar yang dilihat dengan cara berbeda. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: