Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Memasuki usia satu tahun, makanan semakin memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Kebutuhan nutrisi seperti karbohidrat, protein dan zat-zat lain memegang peranan penting dalam pertumbuhan anak perkembangan otak di usia dini

Dokter spesialis anak dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, SpA, CIMI memaparkan, sekitar 70 persen kebutuhan nutrisi anak pada usia tersebut berasal dari makanan dan sekitar 30 persen dari susu.

Konsekuensinya sederhana, tetapi sering kali tidak mudah dilakukan: isi piring anak harus beragam.

Karbohidrat dibutuhkan sebagai sumber energi. Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan pembentukan jaringan. Lemak juga memiliki peran penting, sementara vitamin dan mineral membantu berbagai fungsi tubuh.

| Baca Juga: Rahasia di Balik Kecerdasan Anak: Semua Terjadi di Fase 5 Tahun Pertama

Di antara sumber protein, pangan hewani menjadi salah satu yang perlu diperhatikan. Daging, ikan, telur, dan produk susu dapat menyumbang protein serta berbagai mikronutrien. WHO juga merekomendasikan anak usia 6–23 bulan mendapatkan makanan yang beragam dan mengonsumsi pangan hewani seperti daging, ikan, atau telur setiap hari, disertai buah dan sayuran.

“Protein hewani penting karena mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan untuk membangun sel-sel tubuh, termasuk sel otak,” kata dr. Leonirma.

Namun, protein bukanlah satu-satunya jawaban. Ketika pembicaraan bergeser pada perkembangan otak, ada sejumlah nutrisi lain yang memiliki fungsi berbeda dan justru perlu bekerja secara bersama-sama.

Kolin, DHA, dan Omega-3: Bukan Saling Menggantikan

DHA, omega-3, omega-6, dan kolin kerap disebut bersamaan ketika membicarakan nutrisi untuk perkembangan otak. Namun, keempatnya bukan berarti memiliki fungsi yang sama.

| Baca Juga: Dimulai dari Orang Tua, Catatan Kurva Pertumbuhan Anak Penting untuk Deteksi Stunting

Ditekankan dr. Leonirma bahwa perkembangan otak tidak ditentukan oleh satu nutrisi tunggal. Masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam sistem yang saling berhubungan.

DHA merupakan salah satu jenis asam lemak omega-3 yang banyak terdapat pada jaringan otak dan berperan dalam berbagai proses terkait fungsi serta perkembangan sistem saraf. Sumber pangan antara lain ikan berlemak dan sejumlah pangan hewani.

Sementara itu, omega-3 secara lebih luas merupakan kelompok asam lemak yang mencakup DHA. Dalam konteks pola makan anak, sumber omega-3 dapat diperoleh antara lain dari ikan dan pangan tertentu lainnya.

Adapun omega-6 merupakan kelompok asam lemak tak jenuh ganda yang juga dibutuhkan tubuh. Jadi, pembicaraan mengenai lemak tidak semestinya hanya berfokus pada satu jenis saja, melainkan pada keseimbangan pola makan secara keseluruhan.

| Baca Juga: Penyakit Jantung Rematik, Bahaya Tersembunyi di Balik Sakit Tenggorokan Anak

Lalu ada kolin, nutrisi yang menurut Leonirma masih sering luput dari perhatian orang tua.

Kolin dapat ditemukan dalam sejumlah pangan, termasuk telur dan beberapa sumber pangan hewani. WHO mencatat telur sebagai salah satu sumber pangan yang kaya kolin, sementara kolin memiliki peran dalam berbagai proses pertumbuhan, neurotransmisi, serta proses yang berkaitan dengan memori dan pembelajaran.

Untuk menjelaskan perbedaan fungsi tersebut, Leonirma menggunakan analogi telepon seluler.

DHA dan omega-6 diibaratkan sebagai bagian dari hardware. Omega-3 kemudian berperan dalam menjaga lingkungan kerja sistem tersebut. Sementara kolin dianalogikan sebagai jaringan yang memungkinkan perangkat digunakan untuk berkomunikasi.

| Baca Juga: Cuma Angkat Tumit, Ini 5 Manfaat Calf Raise yang Jarang Diketahui

“Kalau saya punya handphone yang bagus tetapi tidak punya sinyal atau internet, saya tetap tidak bisa berkomunikasi. Itulah ibaratnya kolin,” kata dr. Leonirma.

Analogi itu menegaskan satu hal: kolin bukan pengganti DHA, DHA bukan pengganti omega-3, dan semuanya bukan pengganti pola makan yang beragam.

Yang dicari bukan satu “nutrisi juara”, melainkan kombinasi asupan yang saling melengkapi.

“Collaboration is the key. Tidak bisa satu per satu. Kita membutuhkan kolaborasi berbagai nutrisi,” ujar dr. Leonirma.

WHO sendiri menekankan pentingnya keragaman makanan pada anak usia 6–23 bulan karena kebutuhan zat gizi tidak mungkin dipenuhi hanya dari kelompok makanan yang terbatas.

| Baca Juga: Amanda Manopo Alami Mata Minus Usai Melahirkan, Bisa Normal Lagi?

Lima Cara Lebih Praktis Menyusun Piring Anak

1. Jangan hanya mengejar anak kenyang.

Setiap kali makan, pikirkan kombinasi sederhana: sumber karbohidrat, protein, sayur atau buah, dan sumber lemak yang sesuai. Porsi dan teksturnya tentu disesuaikan dengan usia serta kemampuan makan anak.

2. Utamakan sumber protein.

Telur, ikan, ayam, daging, dan pangan hewani lainnya dapat menjadi pilihan yang bergantian. Telur juga termasuk sumber kolin yang baik.

| Baca Juga: Tempe hingga Sukun, 5 Superfood Lokal Indonesia yang Punya Segudang Manfaat

3. Buat satu bahan menjadi beberapa menu.

Anak yang menolak ikan belum tentu menolak semua olahan ikan. Begitu pula dengan telur atau sayuran. Tekstur, bentuk, dan cara penyajian dapat divariasikan tanpa harus memaksa anak menghabiskan makanan.

4. Jangan menilai pola makan hanya dari satu kali makan.

Jika dalam satu waktu anak hanya makan sedikit atau memilih satu jenis makanan, lihat keseluruhan pola makannya dalam satu hari dan dari hari ke hari. Yang perlu dijaga adalah keragaman dan kecukupan secara keseluruhan.

| Baca Juga: Jangan Asal Tambah Topping! 6 Makanan Ini Perlu Dibatasi Saat Makan Mi Instan

5. Ikuti sinyal lapar dan kenyang anak.

Orang tua bertugas menyediakan pilihan makanan yang bergizi, sedangkan anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyangnya. WHO merekomendasikan pola responsive feeding, yakni orang tua memperhatikan tanda lapar dan kenyang serta mendorong anak makan tanpa mengabaikan respons anak.

Pendekatan tersebut juga membuat waktu makan tidak berubah menjadi arena tarik-menarik antara orang tua dan anak. (*)

1 2 3 4 SHOW ALL

Tags: