Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Aktris kawakan Christine Hakim membeberkan dinamika mental, fisik, dan spiritual yang ia jalani di balik puluhan tahun kiprahnya di industri seni peran. Sepanjang kariernya, peraih banyak Piala Citra ini konsisten melakoni peran-peran ekstrem yang menguras psikologis dan fisik secara mendalam.

Katalog aktingnya mencatat peran-peran berat, seperti penampilan antagonis perdananya yang dingin dan misterius dalam film horor Perempuan Tanah Jahanam (2019), hingga seorang mantan pelacur dengan gangguan ketidakstabilan jiwa dalam film Empat Musim Pertiwi.

Jauh sebelumnya, Christine mengukir sejarah lewat Tjoet Nja' Dhien (1988), sebuah lakon pahlawan nasional yang menuntut ketahanan fisik di alam bebas, ledakan emosional tinggi, serta riset historis mendalam.

Terbaru, ia membintangi film Laut Bercerita. Dalam adaptasi novel tersebut, Christine menghidupkan karakter seorang ibu yang menanggung kepedihan sunyi atas hilangnya sang anak, Biru Laut, seorang aktivis mahasiswa yang diculik pada masa pergolakan politik Orde Baru tahun 1998.

| Baca Juga: Film 'Empat Musim Pertiwi' Karya Kamila Andini, Akan Premiere di Toronto International Film Festival 2026

'Bank of Memory' dan Kendali Penuh Sadar

Kedalaman akting Christine kerap menyisakan getaran emosional yang masih terasa nyata bahkan setelah masa produksi film berakhir lama.

Menanggapi hal tersebut, Christine menjelaskan mekanisme internal seorang aktor dalam mengelola emosi karakter.

"Seorang aktor memiliki apa yang disebut sebagai bank of memory (bank memori emosi). Hal itu bekerja secara otomatis saat dipicu. Namun, saya sering merenung bahwa profesi kita sebagai aktor ini sangat luar biasa dan penuh tanggung jawab moral," jelas Christine Hakim saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026).

Aktris 69 tahun ini menegaskan bahwa seni peran menuntut batasan yang jelas antara penjiwaan dan hilangnya akal sehat. Baginya, akting bukanlah kondisi trans atau kerasukan.

| Baca Juga: Putri Marino Menangis Usai Lihat Trailer 'Empat Musim Pertiwi', Ini Penyebabnya

"Manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan pikiran (body, soul, and mind). Dalam berakting, raga kita meminjamkan tempat bagi jiwa karakter lain untuk hadir," ujar bintang film Pangku ini.

Dia melanjutkan, tetapi akting itu bukan kesurupan. Kalau kesurupan, kita kehilangan kendali sadar dan sutradara tidak akan bisa mengarahkan kita. Dalam seni peran, kesadaran dan kontrol diri seorang aktor justru harus tetap berada di tingkat tertinggi.

Surah Yasin sebagai Benteng Spiritual

Menyadari besarnya dampak psikologis dan kesakralan pesan yang diusung dalam film-film bermuatan luka kemanusiaan, Christine memilih pendekatan spiritual untuk menjaga kewarasannya. Ia membentengi diri dengan ritual ibadah rutin di lokasi syuting.

"Karena saya menyadari keterbatasan saya sebagai manusia biasa, dan beban pesan moral yang disampaikan dalam film begitu sakral dan menyangkut luka banyak orang, saya selalu memohon perlindungan kepada Tuhan," tuturnya.

| Baca Juga: Film Laut Bercerita Terpilih Ikut Kompetisi Utama Busan International Film Festival 2026

Perlindungan tersebut ia jalankan secara disiplin melalui pembacaan kitab suci di tengah padatnya jadwal pengambilan gambar. Hal itu ia lakukan agar jiwanya tetap terjaga dan terlindungi. Selain itu ia bisa membawakan amanah berupa pesan kemanusiaan dan kebaikan dalam film yang ia perankan.

"Selama proses produksi, saya membiasakan diri membaca Surah Yasin setiap hari, bahkan saat adegan-adegan berat bisa sampai tiga kali—di hotel, di lokasi syuting, maupun di basecamp," ujar Christine.

Alasan Tak Menggunakan Jasa Psikolog

Meski kerap bersinggungan dengan karakter-karakter yang mengalami trauma berat dan instabilitas mental, Christine mengaku tidak pernah mengandalkan bantuan profesional kejiwaan seperti psikolog untuk memulihkan kondisinya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan menggunakan jasa psikolog, Christine mengatakan tidak melakukan hal itu. Ia meluruskan bahwa sikap tersebut bukan bentuk penolakan terhadap profesi psikologi, melainkan kesadaran diri atas batasan pertolongan manusia.

| Baca Juga: Aghniny Haque Harus Bicara Lewat Bahasa Isyarat di Film Khadam

"Bukan tidak percaya psikolog secara profesi, pasti saya percaya. Tapi masalahnya adalah kita harus memahami diri kita dan apa yang Tuhan amanatkan," ungkapnya.

Christine menambahkan bahwa sandaran utama dalam hidup pada akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.

"Terus siapa yang menolong? Suami belum tentu, orang tua belum tentu, sahabat apalagi belum tentu. Ada hal-hal yang betul-betul, ya, hanya Tuhan yang bisa. Dan hanya Tuhan yang bisa menuntun," lanjutnya.

Memasuki usia senior, Christine Hakim tetap dituntut prima menghadapi jadwal produksi film yang berat. Ditanya mengenai cara menjaga ketahanan fisiknya saat ini, Christine membeberkan prinsip hidup sederhana tanpa ambisi berlebih.

"Pokoknya kuncinya ikhlas, sabar, dan jangan serakah. Jaga pola hidup, pola makan dan olahraga itu penting buat kesehatan. Tapi pada akhirnya, semua kembali ke pikiran," pungkas Christine. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: