Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Tubuh yang bugar belum tentu sepenuhnya sehat. Tanpa pemeriksaan, tekanan darah tinggi bisa berkembang diam-diam dan perlahan merusak otak, jantung, hingga ginjal.

Menurut dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, banyak orang salah mengira tubuh yang bugar berarti sehat.

"Kita bugar, kita tidak ada keluhan, tidak ada gejala, tapi bukan berarti kita benar-benar sehat kalau kita tidak dicek menyeluruh," ujarnya dalam acara Keep On with Healthy Habits, Life On with Purpose yang diselenggarakan OMRON Healthcare Indonesia, Jumat (11/9/2026).

Hipertensi kerap disebut silent killer karena berlangsung tanpa gejala jelas.

| Baca Juga: Kesehatan Usus Anak Dibentuk Sejak dalam Kandungan, Ini Penjelasan Dokter

Secara umum, angka 120/80 mmHg sering digunakan sebagai gambaran tekanan darah normal. Namun, dr. Decsa menjelaskan bahwa tekanan darah normal berada di bawah 130/80 mmHg.

Persoalan muncul ketika angka tersebut terus meningkat.

Tekanan sistolik 140–159 mmHg dengan diastolik 90–99 mmHg sudah masuk hipertensi tahap pertama. Pada tahap kedua, sistolik berada pada 160–179 mmHg dan diastolik 100–109 mmHg. Sementara tekanan darah di atas 180/110 mmHg masuk hipertensi tahap ketiga.

"Sebagian besar tensi tinggi itu tidak bergejala. Tahunya dari mana? Ya, tensi," kata dr. Decsa, sembari mengingatkan agar angka tinggi yang sudah biasa dilihat tidak dianggap normal.

| Baca Juga: Apa Itu Kanker Limfoma? Penyakit yang Dialami Heeseung eks ENHYPEN Saat Kecil

Bila berlangsung lama, hipertensi membebani jantung dan pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko gangguan irama jantung atau AFib, yang berpotensi memicu pembentukan bekuan darah dan berujung stroke bila bekuan tersebut mengalir ke otak.

Secara fisiologis, tekanan darah dipengaruhi cardiac output dan resistensi perifer. Saat stres, jantung bekerja lebih keras sementara pembuluh darah menyempit, sehingga tekanan meningkat.

Kondisi kurang tidur turut memperberat situasi karena tubuh tak mendapat kesempatan pulih.

Dr. Decsa menekankan empat pilar kesehatan yang saling berkaitan. Yakni pola makan, aktivitas fisik, tidur, dan pengelolaan stres.

| Baca Juga: Teknologi Bayi Tabung Makin Canggih, tetapi Usia Tetap Jadi Penentu Utama

"Rumus sehat itu ada empat. Kita bisa diet dengan baik, aktivitas fisiknya cukup, tidurnya cukup, dan kita bisa manage stres," ujarnya.

Konsumsi garam berlebih juga berperan menaikkan tekanan darah karena tubuh menahan lebih banyak cairan dan memicu rasa haus, seperti dicontohkannya lewat kebiasaan makan nasi goreng.

Hipertensi kronis menyasar tiga organ vital, yaitu otak, jantung, dan ginjal, masing-masing berisiko memicu stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal.

Yang mengkhawatirkan, menurut dr. Decsa, pasien cuci darah dan stroke kini banyak ditemukan pada usia 30 dan 40 tahun, usia produktif yang biasanya menjadi tulang punggung keluarga.

| Baca Juga: Merasa Cuma Kelebihan Berat Badan? Hati-Hati Bisa Jadi Sudah Obesitas

Olahraga tetap penting untuk menjaga kelenturan pembuluh darah dan efisiensi kerja jantung, namun sebaiknya menggabungkan latihan kardio, penguatan otot, dan fleksibilitas seperti yoga atau pilates. Tidur juga disebutnya sebagai bagian penting pemulihan tubuh.

"Tidur itu adalah obat alami dari Tuhan yang diciptakan untuk kita, tetapi kita tidak gunakan dengan baik," katanya.

Dr. Decsa mengajak masyarakat tidak menunggu sakit untuk memeriksa tubuh, dan menjadikan pengukuran tekanan darah secara berkala sebagai kebiasaan. Ia bahkan menyebut alat tekanan darah layak menjadi investasi di rumah.

"Dengan kita aware, dengan kita sadar dengan badan kita, kita bisa menghindarkan diri kita dari banyak hal," tutupnya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: