Roman King Debut Main Film di '5 cm: Revolusi Hati', Ngaku Nervous Gantikan Herjunot Ali
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Empat belas tahun setelah filmnya sukses besar di layar lebar, Soraya Intercine Films resmi memperkenalkan jajaran pemain baru untuk prekuel bertajuk 5 cm: Revolusi Hati. Film ini mengajak penonton menyelami masa lalu Zafran jauh sebelum petualangan mendaki Gunung Semeru bersama Genta, Riani, Arial, dan Ian.
Karakter Zafran muda kini dipercayakan kepada aktor pendatang baru, Roman King. Peran ikonik tersebut sebelumnya dimainkan oleh Herjunot Ali. Debut akting Romam ini langsung memicu sorotan serta pro-kontra di kalangan publik.
Awalnya Tak Tahu '5 cm'
Roman menceritakan bahwa keterlibatannya bermula dari kontak langsung pihak rumah produksi. Menariknya, ia mengaku sempat tidak mengetahui besarnya nama 5 cm di industri perfilman Indonesia.
"Waktu itu aku dikontak langsung oleh Bu Dewi, pihak casting Soraya. Terus aku waktu itu sih sebenarnya belum tahu itu apa, '5 cm apa ini?' Cuman aku kasih tahu ke teman aku, 'Ini apa ya?' gitu. Habis itu, 'Wah ini bagus banget! Lu harus coba casting, coba ini.' Aku kayak, 'Oke, oke,'" tutur Roman saat ditemui di kantor Soraya Intercine Films, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026).
| Baca Juga: Film 5 CM: Revolusi Hati Rilis Jajaran Pemain, Didominasi Aktor Pendatang Baru
Ia langsung menghadiri sesi casting keesokan harinya dan membaca naskah peran yang ditawarkan.
"Aku baca perannya, aku kayak, 'Oke, ini interesting' gitu. Habis itu besoknya lagi aku ketemu langsung sama cast yang berlima. Dan di situ aku audisi sebentar sama mereka, dan ya dari situ keterima," lanjutnya.
Sempat Deg-degan hingga Temukan Chemistry
Menghadapi tahapan audisi proyek film besar diakui Roman sempat memicu rasa gugup. Namun, kecemasan tersebut mereda begitu ia berinteraksi langsung dengan para pemeran lainnya.
Di film ini, ia beradu peran dengan Wironggo Vercaemer (Riko), Rachel Aseelah (Azizah), Olivia Morrison (Astri), Ali Fikry (Asep), dan Bimasena (Ari Wibowo).
| Baca Juga: Leony Vitria Coba Genre Baru di 'Ghosthing', Sempat Ragu Main Film Horor Komedi
"Iya, deg-degan lumayan. Kayak waktu itu belum tahu kayak ini mau sebesar apa sih. Cuman pas ketemu sama mereka aku langsung bertemanan gitu, langsung kalem gitu," ungkap Roman.
Ia menambahkan kecocokan di antara mereka terbangun sangat cepat.
"Tahu sama Ali music taste-nya sama banget, terus kita humornya semua sama banget sih," imbuhnya.
Bekal Akting dari Teater Sekolah
Mengenai latar belakang seni perannya, Roman mengaku telah memiliki pengalaman dasar di panggung teater sejak usia dini. Kendati demikian, seluruh pemain tetap melewati pelatihan intensif bersama pelatih akting saat sesi reading.
"Aku punya experience akting di teater sih, tapi itu untuk sekolah aja kayak waktu kecil. Tapi pas aku dapat perannya, kita berenam dapat acting class sih untuk menambah, ada acting coach untuk persiapan sebelum syuting," jelasnya.
Guna mendalami semesta cerita, Roman langsung menonton film 5 cm (2012) begitu menyelesaikan audisi pertamanya. Pengalaman menonton film tersebut membuatnya sangat terpukau.
"Pas audisi pertama aku langsung nonton, aku takjub kayak, 'Wow, oke.' Kami memang diwajibin nonton. Pas nontonnya kayak, 'Damn, gila,' ucap Roman.
Hindari Meniru Persis Gaya Herjunot Ali
Saat proses eksplorasi karakter Zafran, Roman awalnya beranggapan harus meniru seluruh gestur dan pembawaan Herjunot Ali. Namun, sutradara memberikan arahan berbeda karena latar waktu cerita yang berfokus pada masa SMP.
| Baca Juga: Sara Wijayanto Banyak Belajar Soal Hidup dari Arwah Penasaran
"Pas aku pertama dapat karakter Zafran itu, aku mikirnya, 'Oke, kayak... oke, harus persis banget kayak Herjunot Ali di film pertama' gitu. Cuma lama-lama pas aku coba-coba gitu, sama Pak Sutradara dia nggak terlalu setuju sih," kata Roman.
Sutradara Emil Heradi menginginkan sosok Zafran versi remaja yang belum sepenuhnya matang.
"Karena dia penginnya Zafran sebelum Junot. Kayak, Zafran ini sebelumnya ini kayak gimana gitu, pas dia SMP itu kayak gimana. Dia pun ya, kayak masih PD-PD-nya (percaya dirinya) nggak se-PD Herjunot dan dia narsisnya nggak se-PD dulu kali ya. ," jelasnya.
Latihan Berbulan-bulan hingga Kantongi Lisensi Resmi
Demi menghadirkan adegan yang otentik dan memukau, para pemain—termasuk Romam King—harus menjalani serangkaian pelatihan ekstrem, mulai dari scuba diving hingga freediving, selama berbulan-bulan sebelum proses syuting dimulai.
| Baca Juga: Jung Yein eks Lovelyz Dikabarkan Isi Peran Ha Young di 'The Trauma Code' Season 2 dan 3
Roman mengungkapkan bahwa pihak rumah produksi Soraya Intercine Films memberikan fasilitas pelatihan berstandar tinggi yang dipandu langsung oleh tim profesional di Indonesia.
"Untuk workshop-nya itu kita sudah ngelakuin dalam program yang berbeda. Jadi kita memang sudah siap sebenarnya ketika syuting. Kita di-provide dari tim-tim profesional di Indonesia untuk latihan diving, bahkan kita juga latihan scuba dan freedive. Kita benar-benar dilatih semuanya," ungkap Roman.
Ia dan para pemeran lainnya berhasil menyelesaikan program pelatihan hingga mengantongi lisensi resmi untuk scuba maupun freediving.
Kita sempat coba scuba—yang bawa tabung oksigen di belakang—dan juga freedive. Enaknya preparation syuting yang lama tuh jadi pas sudah syuting sudah enak. Pemain waktu syuting tinggal fokus berakting aja," jelas Roman.
| Baca Juga: Ayu Ting Ting Tak Kuasa Tahan Tangis Saat Nonton Film 'Ibu Bagaimana Aku Tanpamu?'
Meski para pemain telah memiliki lisensi resmi dan keterampilan menyelam yang mumpuni, pihak produksi di bawah arahan Sunil Soraya tetap menempatkan faktor keselamatan di prioritas tertinggi. Selama pengambilan gambar di lokasi perairan ekstrem, seluruh proses diawasi ketat oleh tim penyelamat profesional.
"Walaupun kita sudah siap, sudah dipercaya, dan punya lisensi, waktu kita diving kita tetap didampingi tim underwater, rescue team, hingga BASARNAS," tutupnya. (*)







