Yuk Kenali 3 Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Kanker Payudara
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Meski sering dikaitkan dengan faktor genetik, namun kanker payudara juga dapat dipicu oleh gaya hidup sehari-hari yang dianggap sepele.
Seperti mengonsumsi alkohol, pola makan yang tidak sehat, hingga aktivitas fisik yang minim dapat memengaruhi risiko penyakit tersebut.
Dilansir Vivia Media dari berbagi sumber, berikut ini tiga kebiasaan yang meningkatkan risiko kanker payudara.
| Baca Juga: Sering Bernapas Lewat Mulut saat Olahraga? Hati-hati, Gigi Bisa Lebih Cepat Rusak
Konsumsi Alkohol
Ahli gizi Kate Dwyer menjelaskan bahwa alkohol dapat meningkatkan kadar estrogen dalam tubuh dan memicu kerusakan DNA melalui asetaldehida, senyawa yang terbentuk saat tubuh memecah alkohol.
“Alkohol adalah salah satu faktor yang memiliki hubungan cukup konsisten dengan peningkatan risiko kanker payudara,” ujarnya.
Konsumsi Makanan Ultra Processed Foods
Ultra Processed Foods (UPF) adalah produk makanan yang telah melalui serangkaian tahapan pengolahan industri. Contohnya, sosis, nuget ayam, kornet, mie instan, dan minuman bersoda.
| Baca Juga: Sering Dilupakan, Kulit Ketiak Juga Butuh Skincare Rutin Seperti Wajah
Seperti makanan cepat saji, UPF sebenarnya tidak berbahaya jika dikonsumsi sesekali. Namun akan menjadi masalah jika dijadikan menu utama yang dikonsumsi hampir setiap hari.
Kebiasaan mengonsumsi makanan UPF secara berlebihan dapat membuat seseorang lebih sedikit mengonsumsi makanan bergizi. Seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh.
Penelitian menunjukkan, konsumsi makanan UPF secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Untuk mengurangi risiko tersebut, ahli gizi menyarankan memperbanyak konsumsi makanan nabati, seperti sayuran, buah, dan kacang-kacangan, dalam menu sehari-hari.
| Baca Juga: Siapa Belahan Jiwa Gemini? Ini 5 Zodiak yang Dinilai Paling Serasi
Kurang Aktivitas Fisik
Kurangnya aktivitas fisik juga dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Aktivitas fisik secara rutin membantu mengatur kadar estrogen, meningkatkan sensitivitas insulin, dan mengurangi peradangan yang berhubungan dengan perkembangan beberapa jenis kanker payudara.
Menurut American Cancer Society, orang dewasa disarankan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit per minggu atau aktivitas intensitas tinggi selama 75 hingga 150 menit per minggu.
Tidak harus aktivitas yang berat. Kalian bisa melakukan jalan cepat, bersepeda, berenang, berkebun, menari, maupun gym.
Ahli gizi Jess Baker menjelaskan, manfaat olahraga tidak selalu berkaitan dengan penurunan berat badan.
| Baca Juga: Alasan DJ Whisnu Santika Stop Minum Alkohol: Mimpi Gus Dur
“Olahraga membantu menurunkan risiko kanker payudara melalui pengaruhnya terhadap hormon dan peradangan,” katanya.
Rutin Cek Payudara Sendiri
Selain menerapkan pola hidup sehat, masyarakat juga dianjurkan mengetahui riwayat kesehatan keluarga, menjalani mammogram secara rutin, dan memahami kondisi payudara.
Selain itu, kalian juga bisa melakukan pemeriksaan sendiri di rumah dengan gerakan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri).
Pemeriksaan bisa dilakukan secara rutin setiap bulan, setidaknya 7-10 hari setelah hari pertama haid, karena pada periode itu jaringan payudara dalam kondisi paling lunak.
| Baca Juga: Usai Oplas Hidung, Ria Ricis Dikritik Karena Gaya Berpakaian Makin Ketat
Caranya cukup mudah. Kalian hanya perlu mengamati payudara di depan cermin dengan dua tangan di sisi tubuh. Perhatikan apakah ada kerutan seperti kulit jeruk, cekungan seperti lesung pipi, atau puting yang tertarik ke dalam.
Kalian juga bisa mengamati perubahan payudara dengan merabanya dalam posisi berbaring atau saat mandi. Rasakan apakah ada benjolan, pengerasan jaringan, atau rasa nyeri yang tidak wajar.
Tanda kanker payudara lainnya dapat berupa keluarnya cairan tidak normal, misalnya berwarna kekuningan atau darah, dari puting.
Jika menemukan gejala-gelaja yang disebutkan, segera periksakan diri ke dokter. Semakin cepat didiagnosis, semakin cepat pengobatan dapat dilakukan. (*)







