Mengenal Melasma, Gangguan Kulit Kronis yang Sering Disalahpahami
VIVIA MEDIA — Bercak kecokelatan di wajah kerap dianggap sebagai flek biasa. Banyak orang memilih menutupinya dengan riasan atau mencoba produk perawatan kulit yang dijual bebas, berharap noda tersebut memudar dengan sendirinya.
Padahal, tidak semua flek di wajah punya penyebab yang sama. Salah satu kondisi yang paling sering disalahartikan adalah melasma, gangguan hiperpigmentasi kulit yang bersifat kronis dan mudah kambuh.
Menurut Chief Marketing Officer PT Unison Medika Jaya, dr. Deanno Willio Saputro, masyarakat cenderung menganggap bercak kecokelatan di wajah sebagai hal yang wajar sehingga tidak merasa perlu berkonsultasi ke dokter.
Padahal bagi sebagian penderita, kondisi ini berdampak besar pada kepercayaan diri dan kualitas hidup mereka. Hal ini disampaikan dr. Deanno dalam sesi bincang-bincang bertajuk "Lebih Paham Melasma, Lebih Tepat Penanganannya" bersama Xela Rederm dan AQ Skin Solutions di kawasan Setiabudi, Kuningan, Jakarta, Rabu (15/7).
| Baca Juga: Perdarahan Tidak Teratur Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Kanker Endometrium
Paling Sering Dialami Perempuan Usia Produktif
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr. Stanley Setiawan, Sp.DVE, FINSDV, FAAD, menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat soal melasma masih sangat terbatas. Menurutnya, melasma bukan sekadar perubahan warna kulit, melainkan penyakit kulit kronis yang melibatkan berbagai proses biologis dan dapat memengaruhi kondisi psikologis maupun kualitas hidup pasien.
Melasma ditandai dengan bercak berwarna cokelat hingga abu-abu kecokelatan yang umumnya muncul simetris di kedua sisi wajah, terutama di dahi, pipi, hidung, bibir atas, dan rahang.
Bercak serupa juga bisa muncul di bagian tubuh lain yang sering terpapar sinar matahari.
Kondisi ini paling banyak ditemukan pada perempuan berusia 25 hingga 50 tahun, sebagai hasil kombinasi berbagai faktor: paparan sinar ultraviolet, perubahan hormonal, faktor genetik, hingga karakteristik tipe kulit.
| Baca Juga: Konsumsi Yogurt Jadi Andalan Gaya Hidup Sehat Pevita Pearce
"Sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki tipe kulit Fitzpatrick III hingga V yang memang lebih rentan mengalami melasma. Ditambah lagi, Indonesia merupakan negara tropis dengan intensitas sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun sehingga risiko terjadinya melasma menjadi lebih besar," ujar dr. Stanley.







