Hati Bisa Rusak Tanpa Gejala, Kenali Ancaman Hepatitis di Balik Gaya Hidup Modern
Adapun hepatitis kronis berlangsung lebih dari enam bulan dan bisa merusak hati secara bertahap, paling sering disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B dan C, perlemakan hati akibat gangguan metabolik, serta konsumsi alkohol berlebihan.
Pada hepatitis B dan C, virus memang tidak selalu bisa dihilangkan sepenuhnya. Namun, terapi antivirus mampu menekan perkembangan virus, menjaga fungsi hati, dan menurunkan risiko komplikasi jangka panjang.
| Baca Juga: Tak Semua Makanan Fermentasi Menyehatkan, Ini Tips Memilihnya
Yang membuat penyakit ini kian berbahaya adalah minimnya gejala pada tahap awal, sehingga hepatitis kerap dijuluki silent killer.
“Seseorang bisa saja mengalami perlemakan hati atau infeksi hepatitis tanpa menyadarinya. Karena itu, pemeriksaan menjadi penting, terutama pada mereka yang memiliki faktor risiko,” ujar dr. Lianda.
Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain individu dengan obesitas, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi. Mereka yang memiliki riwayat konsumsi alkohol, pernah terpapar risiko hepatitis B dan C, maupun memiliki riwayat penyakit hati dalam keluarga juga termasuk.
Hepatitis B dan C sendiri menular lewat kontak cairan tubuh penderita seperti darah, urine, air mani, maupun cairan vagina.
| Baca Juga: Konsumsi Yogurt Jadi Andalan Gaya Hidup Sehat Pevita Pearce
Proses itu bisa melalui hubungan seksual berisiko, jarum suntik bergantian, berbagi barang pribadi seperti pisau cukur atau sikat gigi, luka terbuka, hingga penularan dari ibu ke bayi saat persalinan. Virus ini bahkan bisa bertahan hidup hingga tujuh hari di luar tubuh manusia, dengan masa inkubasi 30–180 hari.
Sebagian penderita tak merasakan gejala apa pun. Namun, bila muncul, tandanya pun beragam. Bisa berupa demam, mual, muntah, hilang nafsu makan, nyeri perut kanan atas, nyeri sendi, kulit dan mata menguning, urine gelap seperti teh, feses pucat, hingga pembengkakan kaki, tangan, atau perut.
Momentum peringatan World Hepatitis Day setiap 28 Juli menjadi pengingat bahwa kesehatan hati tak boleh menunggu keluhan muncul. Sebab, hati yang sehat bukan hanya menjaga fungsi tubuh hari ini, tetapi juga menentukan kualitas hidup di masa depan. (*)







