Hati Bisa Rusak Tanpa Gejala, Kenali Ancaman Hepatitis di Balik Gaya Hidup Modern
VIVIA MEDIA — Tidak semua penyakit hadir dengan tanda yang mudah dikenali. Sebagian justru berkembang diam-diam bertahun-tahun sebelum akhirnya terungkap setelah kerusakan organ terlanjur berat. Hepatitis termasuk dalam kategori penyakit semacam ini.
Selama ini, hepatitis lebih dikenal sebagai penyakit akibat infeksi virus A, B, C, D, dan E. Padahal, peradangan hati juga bisa dipicu oleh faktor non-infeksi, terutama penumpukan lemak akibat gangguan metabolik maupun konsumsi alkohol berlebihan.
Hati sendiri adalah organ vital yang berfungsi menyaring racun, mengolah nutrisi, menyimpan cadangan energi, sekaligus mendukung sistem kekebalan tubuh. Ketika organ ini meradang dalam waktu lama, seluruh fungsi tersebut bisa terganggu dan berujung pada kerusakan permanen.
Dr. dr. Lianda Siregar, Sp.P.D., Subsp. G.E.H. (K), FACG, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi dari RS Pondok Indah – Puri Indah, menjelaskan bahwa pemicu penyakit hati kini jauh lebih beragam dibanding beberapa dekade lalu.
| Baca Juga: Rahasia di Balik Kecerdasan Anak: Semua Terjadi di Fase 5 Tahun Pertama
Menurutnya, gangguan metabolik seperti obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, dan hipertensi kini turut berperan besar memicu perlemakan dan peradangan hati, di luar faktor infeksi virus yang selama ini lebih dikenal masyarakat.
Perubahan pola penyebab ini bahkan mendorong Asosiasi Hati Dunia memperbarui istilah penyakit perlemakan hati menjadi Metabolic Dysfunction-Associated Fatty Liver Disease (MAFLD) atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).
Istilah tersebut menegaskan kaitan erat antara penumpukan lemak di hati dengan gangguan metabolik tubuh.
Kondisi ini tak boleh dianggap sepele. Jika berlangsung terus-menerus, penumpukan lemak bisa berkembang menjadi steatohepatitis, memicu terbentuknya jaringan parut (fibrosis), lalu berlanjut ke sirosis, bahkan kanker hati.
| Baca Juga: Gaya Hidup dan Ketidakseimbangan Hormon di Balik Meningkatnya Kasus Kanker Endometrium
“Kerusakan hati akibat gangguan metabolik dapat berjalan perlahan tanpa disadari. Karena itu, deteksi dan pengendalian faktor risikonya menjadi sangat penting sebelum terjadi kerusakan yang lebih berat,” kata dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi-hepatologi dari RS Pondok Indah-Puri Indah itu.
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, hepatitis dibagi menjadi akut dan kronis. Hepatitis akut umumnya muncul mendadak akibat infeksi virus, dan sebagian besar membaik seiring respons sistem imun tubuh.
Adapun hepatitis kronis berlangsung lebih dari enam bulan dan bisa merusak hati secara bertahap, paling sering disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B dan C, perlemakan hati akibat gangguan metabolik, serta konsumsi alkohol berlebihan.
Pada hepatitis B dan C, virus memang tidak selalu bisa dihilangkan sepenuhnya. Namun, terapi antivirus mampu menekan perkembangan virus, menjaga fungsi hati, dan menurunkan risiko komplikasi jangka panjang.
| Baca Juga: Tak Semua Makanan Fermentasi Menyehatkan, Ini Tips Memilihnya
Yang membuat penyakit ini kian berbahaya adalah minimnya gejala pada tahap awal, sehingga hepatitis kerap dijuluki silent killer.
“Seseorang bisa saja mengalami perlemakan hati atau infeksi hepatitis tanpa menyadarinya. Karena itu, pemeriksaan menjadi penting, terutama pada mereka yang memiliki faktor risiko,” ujar dr. Lianda.
Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain individu dengan obesitas, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi. Mereka yang memiliki riwayat konsumsi alkohol, pernah terpapar risiko hepatitis B dan C, maupun memiliki riwayat penyakit hati dalam keluarga juga termasuk.
Hepatitis B dan C sendiri menular lewat kontak cairan tubuh penderita seperti darah, urine, air mani, maupun cairan vagina.
| Baca Juga: Konsumsi Yogurt Jadi Andalan Gaya Hidup Sehat Pevita Pearce
Proses itu bisa melalui hubungan seksual berisiko, jarum suntik bergantian, berbagi barang pribadi seperti pisau cukur atau sikat gigi, luka terbuka, hingga penularan dari ibu ke bayi saat persalinan. Virus ini bahkan bisa bertahan hidup hingga tujuh hari di luar tubuh manusia, dengan masa inkubasi 30–180 hari.
Sebagian penderita tak merasakan gejala apa pun. Namun, bila muncul, tandanya pun beragam. Bisa berupa demam, mual, muntah, hilang nafsu makan, nyeri perut kanan atas, nyeri sendi, kulit dan mata menguning, urine gelap seperti teh, feses pucat, hingga pembengkakan kaki, tangan, atau perut.
Momentum peringatan World Hepatitis Day setiap 28 Juli menjadi pengingat bahwa kesehatan hati tak boleh menunggu keluhan muncul. Sebab, hati yang sehat bukan hanya menjaga fungsi tubuh hari ini, tetapi juga menentukan kualitas hidup di masa depan. (*)







