VIVIA MEDIA — Benarkah atap asbes dapat menyebabkan kanker paru? Pertanyaan ini belakangan ramai diperbincangkan seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap penggunaan asbes sebagai material bangunan.

Di tengah beragam informasi yang beredar, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mengingatkan pentingnya memahami persoalan tersebut berdasarkan bukti ilmiah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun kepanikan.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, mengatakan Hari Kanker Paru Sedunia seharusnya tidak hanya menjadi pengingat akan tingginya beban penyakit ini, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pencegahan dan deteksi dini.

“Kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan, deteksi dini, serta pentingnya memperoleh informasi kesehatan yang didasarkan pada bukti ilmiah,” ujar Prof. Aru.

| Baca Juga: Tidak Cukup Jalan Kaki, Ini Dua Kunci Mencegah Sarcopenia

Membedakan Material Asbes dengan Paparan Serat Asbestos

Di tengah kekhawatiran masyarakat mengenai penggunaan atap asbes, YKI menegaskan bahwa ilmu pengetahuan membedakan antara keberadaan material yang mengandung asbestos dengan paparan serat dari asbes yang terhirup.

Material yang masih dalam kondisi utuh memiliki potensi melepaskan serat lebih rendah dibandingkan material yang telah rusak, lapuk, dipotong, dibor, dipecahkan, atau dibongkar. Risiko kesehatan meningkat ketika serat-serat asbestos yang berukuran sangat kecil terlepas ke udara, kemudian terhirup dan masuk ke dalam paru-paru.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), hingga saat ini belum terdapat tingkat paparan asbestos yang benar-benar aman. Paparan serat asbestos yang terhirup telah terbukti meningkatkan risiko kanker paru maupun berbagai penyakit lain yang berkaitan dengan asbestos.

Temuan tersebut sejalan dengan penjelasan National Cancer Institute (NCI) yang menyebutkan bahwa serat asbestos dapat bertahan di jaringan paru selama bertahun-tahun.

| Baca Juga: Mata Katarak Tak Perlu Menunggu Parah, Deteksi Dini Perbesar Peluang Sembuh

Keberadaan serat tersebut memicu peradangan kronis yang pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya kanker paru maupun mesothelioma, yaitu kanker yang menyerang lapisan paru dan organ lainnya.

1 2 3

Tags: