Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Banyak orang merasa penyakit jantung adalah persoalan yang baru perlu dipikirkan ketika usia mulai menua. Selama tubuh masih kuat beraktivitas, olahraga masih bisa dilakukan, dan tidak ada keluhan berarti, pemeriksaan jantung pun kerap dianggap belum mendesak.

Annisa Pohan Yudhoyono justru mengingatkan agar anggapan tersebut mulai ditinggalkan.

Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI) itu menyatakan, menjaga jantung bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan setelah tubuh memberikan peringatan. Sebab, penyakit kardiovaskular dapat menyerang kelompok usia produktif, sementara sebagian gangguannya bisa berkembang tanpa gejala yang jelas.

“Jangan pikir karena masih muda, enggak usah mengecek jantung. Walaupun kita masih 30-an, masih 40-an, kalau bisa setidaknya sekalilah dalam usia itu kita cek jantung,” ujar Annisa saat memperingati Hari Jantung Sedunia 2026 di kantor Yayasan Jantung Indonesia, Jakarta, pada Rabu (23/9/2026).

| Baca Juga: Annisa Pohan Minta Anak Muda Waspada, Usia Produktif Kian Rawan Sakit Jantung

Pesan itu terasa semakin dekat bagi Annisa setelah mengalami sendiri perubahan kondisi tubuh ketika hamil. Tekanan darah yang sebelumnya normal meningkat selama kehamilan.

Ia juga mengalami asma yang berkaitan dengan kehamilan sehingga harus lebih memperhatikan kondisi tubuh, termasuk memantau tekanan darah dan menggunakan nebulizer ketika diperlukan.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa merasa sehat tidak selalu berarti seluruh kondisi tubuh berada dalam keadaan baik.

“Kadang kita baru sadar pentingnya kesehatan setelah ada sesuatu yang terjadi,” tutur istri Agus Harimurti Yudhoyono itu.

| Baca Juga: Mengenang Lee Yong Ju, Bintang 'Princess Hours' yang Meninggal Mendadak Akibat Serangan Jantung

Penyakit Jantung Tidak Lagi Identik dengan Usia Lanjut

Peringatan World Heart Day 2026 menjadi momentum bagi Annisa dan YJI untuk kembali mengajak masyarakat melihat kesehatan jantung dengan cara berbeda.

Tema global tahun ini, “Don’t Miss A Beat”, menyoroti gejala penyakit jantung yang dapat terlewatkan, tidak dikenali, atau bahkan diabaikan. World Heart Federation menyebut penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama di dunia dan banyak faktor risikonya sebenarnya dapat dicegah atau dikendalikan.

Di Indonesia, perhatian terhadap kelompok usia muda juga semakin penting. Menurut Annisa, populasi penyakit jantung paling besar berada pada rentang usia 18–45 tahun, dengan kelompok 25–34 tahun menjadi kelompok terbesar.

Ketua Pengurus Pusat PERKI dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), Ph.D., pada kesempatan yang sama mengatakan serangan jantung juga dapat terjadi pada kelompok usia 20–45 tahun.

| Baca Juga: Ayah Alice Norin Pingsan saat Olahraga, Diduga Alami Penyumbatan Jantung

Ia menyebut hipertensi, merokok, kolesterol tinggi, dan diabetes sebagai sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan. "Usia muda tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari risiko," ujarnya.

Menurut Annisa, salah satu tantangan terbesar dalam pencegahan penyakit jantung adalah membuat masyarakat mau memeriksakan diri sebelum muncul keluhan.

Karena itu, YJI melakukan pemeriksaan kardiovaskular dengan pendekatan jemput bola. Pemeriksaan dapat mencakup tekanan darah, gula darah, kolesterol, serta faktor risiko lainnya. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan juga menggunakan ekokardiografi portabel.

Masyarakat ditemui di berbagai komunitas dan tempat kerja, termasuk kelompok yang memiliki akses lebih terbatas terhadap informasi maupun layanan kesehatan.

| Baca Juga: Penyakit Jantung Rematik, Bahaya Tersembunyi di Balik Sakit Tenggorokan Anak

Penyakit Jantung pada Anak

Saat ini, YJI juga memperluas perhatian pada kesehatan jantung anak. Salah satu persoalan yang tengah mendapat perhatian YJI adalah penyakit jantung rematik (PJR) pada anak dan remaja.

PJR dapat berkembang setelah infeksi tenggorokan akibat bakteri Group A Streptococcus. Persoalannya, penyakit tersebut dapat berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali sejak awal dan kemudian menyebabkan kerusakan pada katup jantung. YJI saat ini melanjutkan program deteksi dini PJR melalui skrining anak di sejumlah daerah.

Pada 2026, program nasional tersebut menargetkan 8.000 anak usia sekolah dasar di empat daerah prioritas, yaitu Malang, Bekasi, Tulang Bawang di Lampung, dan Minahasa Utara.

Kampanye lewat Panca Usaha SEHAT

Annisa juga melihat perubahan gaya hidup sebagai bagian penting dalam pencegahan penyakit jantung. Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan olahraga sekadar tren. Aktivitas fisik perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, terutama ketika seseorang belum mengetahui faktor risiko yang dimilikinya.

| Baca Juga: Mengejan Saat Buang Air Kecil Bukan Tanda Menua Biasa, Cek Prostat Sebelum Terlambat

“Jangan karena sedang tren olahraga yang high impact, lalu kita ikut tanpa tahu kondisi jantung kita,” katanya.

Menurutnya, bergerak tidak harus berarti melakukan olahraga berat atau mengejar pencapaian tertentu. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten tetap memiliki arti.

Ditegaskan Annisa, YJI juga terus mengingatkan masyarakat pada Panca Usaha Jantung SEHAT, yang menjadi panduan sederhana untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

YJI sendiri mencantumkan Panca Usaha SEHAT sebagai bagian dari edukasi pencegahan penyakit jantung.

| Baca Juga: Influenza A Tengah Ramai di Surabaya, Kenali Bedanya dengan Pilek Biasa

S — Seimbangkan gizi, dengan memperhatikan makanan bergizi, buah, sayuran, sumber protein, serta membatasi garam dan gula.

E — Enyahkan rokok.

H — Hadapi dan atasi stres, termasuk dengan mengelola stres secara sehat dan mendapatkan tidur yang cukup.

A — Awasi tekanan darah.

T — Teratur berolahraga, sesuai kondisi dan kemampuan tubuh.

Bagi Annisa, kebiasaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, justru kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus itulah yang dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang. (*)

1 2 3 4 SHOW ALL

Tags: