Mastitis Pada Ibu Tak Harus Hentikan Perjalanan Menyusui Buah Hati
VIVIA MEDIA — Menyusui merupakan awal dari perjalanan panjang seorang ibu bersama buah hatinya. Namun di balik momen yang kerap digambarkan penuh kehangatan itu, tidak sedikit ibu yang harus berhadapan dengan berbagai tantangan. Puting lecet, saluran air susu ibu (ASI) tersumbat, hingga mastitis menjadi keluhan yang cukup sering muncul, terutama pada minggu-minggu pertama setelah persalinan.
Mastitis adalah ketika terjadi peradangan pada jaringan payudara yang disertai infeksi. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih serius hingga menyebabkan abses payudara.
Dokter Konselor Laktasi RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC, menjelaskan bahwa mastitis merupakan peradangan pada jaringan payudara yang paling banyak terjadi pada enam hingga delapan minggu pertama setelah melahirkan.
“Mastitis umumnya diawali oleh bendungan ASI akibat aliran ASI yang tidak optimal sehingga memicu peradangan pada jaringan payudara. Pada sebagian kasus, mastitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, yang paling sering adalah Staphylococcus aureus, yang masuk melalui luka atau retakan pada puting,” ujar dr. Anastasia di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
| Baca Juga: Soal Atap Asbes Bisa Picu Kanker Paru, Ini Penjelasan dari Dokter
Kondisi ini biasanya bersifat akut dan hanya terjadi pada satu payudara. Gejalanya cukup khas, mulai dari area payudara memerah, bengkak, terasa hangat, hingga nyeri saat disentuh.
Tidak jarang, ibu juga mengalami demam, menggigil, dan tubuh terasa lemas. Bila dibiarkan, peradangan dapat berkembang menjadi abses akibat infeksi bakteri.
ASI Tetap Aman untuk Bayi
Salah satu kekhawatiran terbesar ibu yang mengalami mastitis adalah apakah ASI masih aman diberikan kepada bayi. Kekhawatiran ini sering membuat ibu memilih menghentikan proses menyusui, padahal langkah itu justru dapat memperburuk kondisi.
“Sebagian besar kasus mastitis tidak membuat ASI menjadi berbahaya bagi bayi. Karena itu, ibu tetap dianjurkan menyusui atau mengeluarkan ASI dari payudara yang mengalami mastitis, kecuali dokter memberikan anjuran khusus,” kata dr. Anastasia.
| Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit Jantung Rematik, YJI Skrining 8.000 Anak SD
Pada beberapa kasus, bayi memang dapat menyusu lebih singkat atau sementara menolak payudara yang mengalami mastitis akibat rasa ASI yang sedikit lebih asin karena kadar natrium meningkat. Namun kondisi ini umumnya hanya berlangsung sementara dan membaik setelah peradangan mereda.
Penanganan Dini Cegah Komplikasi
Semakin cepat mastitis ditangani, semakin kecil risiko komplikasinya. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan di rumah ketika gejala masih ringan. Yaitu tetap menyusui, mengompres dingin setelah menyusui, memperbanyak minum air putih, beristirahat cukup, serta mengonsumsi obat antinyeri sesuai anjuran dokter bila diperlukan.
Namun bila keluhan tidak membaik, dr. Anastasia menegaskan pemeriksaan ke dokter tidak boleh ditunda.
“Ibu sebaiknya segera berkonsultasi apabila mengalami demam lebih dari 38 derajat Celsius, menggigil, nyeri yang semakin berat dalam waktu 24 jam meski sudah melakukan penanganan di rumah, muncul benjolan yang semakin besar, atau keluar nanah dari puting,” jelasnya.
| Baca Juga: Hal yang Boleh dan Dilarang Dalam Merawat Luka Menurut Para Ahli
Pada kondisi tersebut, dokter dapat memberikan terapi antinyeri, antiperadangan, maupun antibiotik yang aman untuk ibu menyusui. Bila telah terbentuk abses, drainase melalui aspirasi jarum atau sayatan kecil dapat dilakukan sesuai ukuran dan kondisi abses.
Mencegah Mastitis Berulang
Mastitis sebenarnya dapat dicegah, salah satunya dengan memastikan ASI keluar secara optimal agar tidak terjadi bendungan di payudara. Menurut dr. Anastasia, ibu yang pernah mengalami mastitis berisiko lebih tinggi mengalaminya kembali apabila penyebab utamanya tidak diperbaiki, seperti teknik perlekatan bayi yang kurang tepat atau payudara yang tidak dikosongkan secara tuntas.
Karena itu, ibu dianjurkan menyusui sesuai kebutuhan bayi tanpa membatasi durasi, yakni mengeluarkan ASI sesuai kebutuhan, serta menghindari bra yang terlalu ketat.
Kebersihan puting juga perlu dijaga, dan krim pelembap dapat membantu bila puting mulai kering atau lecet. Ibu juga disarankan berkonsultasi dengan dokter konselor laktasi untuk memastikan posisi dan teknik menyusui sudah benar, terutama bila keluhan sering berulang.
| Baca Juga: Cegah Gigi Berlubang pada Anak, Mulai dari Enam Kebiasaan Kecil di Rumah
Perlekatan yang baik ditandai dengan mulut bayi terbuka lebar dan sebagian besar area areola bawah masuk ke dalam mulut bayi, bukan hanya puting yang diisap, dengan posisi kepala, leher, dan tubuh bayi sejajar serta dada menempel pada dada ibu.
“Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter konselor laktasi ketika mulai merasakan gejala mastitis. Dengan penanganan sejak dini, ibu dapat tetap menjalani momen menyusui dengan tenang, nyaman, dan bahagia bersama buah hati,” tandas dr. Anastasia. (*)







