Komunitas Gumul Juang Ajak Anak-Anak Bantaran Sungai Ciliwung Rayakan Hari Anak Nasional
VIVIA MEDIA — Puluhan anak di kawasan padat penduduk di Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur terlihat antusias saat menghadiri kegiatan bertajuk 'Pendidikan untuk Semua, Menuju Generasi Hebat' di bantaran Sungai Ciliwung, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan tersebut dalam rangka Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh setiap tanggal 23 Juli. Meski lokasi kegiatan jauh dari kata nyaman, berada di bawah jembatan besar lintasan kereta api jurusan Jatinegara, mereka memancarkan antusiasme yang luar biasa.
Anak-anak tersebut merupakan bagian dari Komunitas Gumul Juang (KGJ). Sebagai organisasi sosial nirlaba yang didirikan oleh sekumpulan mahasiswa dengan misi mulia, KGJ memberikan pendidikan dan kesejahteraan bagi anak-anak di pinggiran rel dan bantaran kali, seperti di Bukit Duri, Cawang, dan Kampung Bendungan.
Suasana yang semula formal berubah menjadi penuh tawa saat Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, membuka sesi tanya jawab. Ia bertanya kepada salah satu anak mengenai aktivitasnya saat memegang gawai atau gadget.
| Baca Juga: Avip Priatna dan The Resonanz Children’s Choir Wakili Indonesia ke Final European Grand Prix 2027
"Ngeliat TikTok," jawab seorang anak dengan polosnya. Rasa penasaran Veronica pun berlanjut. "Konten apa yang ditonton?" tanyanya lagi.
Dengan lugas dan tanpa ragu, anak tersebut menjawab, "Joget Kicau Mania, Bu, sama Joget Mexico!" Sontak, jawaban jujur tersebut memicu gelak tawa dari para tamu undangan dan warga yang hadir.
Waspada 'Grooming' dan Pentingnya Kawalan Orang Tua
Namun, di balik tawa tersebut, Veronica Tan melihat sebuah fenomena penting. Ia mencermati bahwa keberanian anak-anak tersebut bercerita dan bermimpi, sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka konsumsi di media sosial.
Veronica menekankan bahwa media sosial seperti TikTok memang memberikan dampak positif pada rasa percaya diri anak. Mereka melihat orang-orang tampil berani dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai perlunya pendampingan ketat.
| Baca Juga: Kisah Pelampung Kakek Umar untuk Cucu di Tragedi Tenggelamnya KM Nurul Salsa
"Tetap memerlukan pendampingan orang tua. Terutama pada masa pertumbuhan hormon anak-anak, dari usia SD hingga SMP. Itu harus kita kawal ketat agar mereka tidak mudah menjadi korban grooming," tegasnya.
Tiga Pilar Utama Menuju Generasi Hebat
Menurutnya, kolaborasi antarelemen adalah kunci untuk melindungi masa depan anak-anak Indonesia. Veronika Tan mengajak pemerintah, pihak swasta seperti Lemonilo, dan komunitas lokal seperti KGJ untuk berhenti bekerja secara parsial atau sendiri-sendiri.
Sejalan dengan misi perlindungan anak, Shinta Nurfauzia, Co-Founder & Co-CEO Lemonilo, mengungkapkan komitmennya melalui visi 'Menuju Generasi Hebat'. Dalam pandangannya, membangun generasi masa depan membutuhkan tiga pilar utama yang saling berkaitan.
Pertama adalah fisik. Shinta menjelaskan bahwa nutrisi adalah fondasi utama. Pihaknya aktif berpartisipasi dalam komunitas yang fokus pada isu gizi anak Indonesia.
| Baca Juga: Kisah Cucu Pakai Gaun Pengantin Mendiang Nenek dari Tahun 60-an di Hari Pernikahan
"Kedua adalah pendidikan. Saya mengapresiasi langkah KGJ yang memberikan pelajaran matematika, bahasa Inggris, hingga musik pada akhir pekan. Tidak cuma tubuhnya, tapi otaknya juga harus dikembangkan," jelas Shinta.
Sedangkan hal ketiga adalah jiwa. Isu kesehatan mental (mental health) baik bagi anak maupun orang tua menjadi fokus yang tidak boleh ditinggalkan.
"Tiga hal yang berhubungan dengan fisik, otak, dan jiwa yang sehat adalah jenis komunitas yang konsisten kami dukung," tegasnya.
Shinta juga mengaku sangat terinspirasi oleh konsistensi KGJ dan para relawannya yang telah bergerak sejak tahun 2010.
| Baca Juga: Demi Kembalikan Fungsi Hutan, Jerhemy Owen Tebang Sawit Ilegal dan Tanam 170 Ribu Pohon di Aceh
"Mereka mengurus 97 anak sambil tetap bekerja di hari biasa. Ini sangat menginspirasi. Saya juga mengapresiasi warga sekitar yang mau memberikan tempat meski di lokasi seperti ini," imbuhnya.
'Kado Manis' dan Tantangan Digitalisasi di Lapisan Bawah
Sejak berdiri pada 2010, KGJ secara rutin memberikan pendidikan nonformal kepada anak-anak setiap akhir pekan. Hingga kini, sebanyak 97 anak aktif mengikuti berbagai kegiatan belajar yang difasilitasi komunitas tersebut.
Program yang diberikan tidak hanya mencakup pelajaran akademik seperti matematika dan bahasa Inggris, tetapi juga mulai dikembangkan ke bidang seni musik serta pendidikan digital.
Perwakilan KGJ, Daniel, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas perhatian yang diberikan. Baginya, kunjungan pejabat negara dan pihak swasta ke kolong jembatan adalah sebuah bentuk pengakuan bagi anak-anak marjinal.
| Baca Juga: Ahli Waris Pattimura Usulkan Kediaman Thomas Matulessy Jadi Museum
"Kami bersyukur sekali di Hari Anak ini kami mendapatkan 'kado manis'. Itu adalah hal yang paling luar biasa, karena tidak semua brand mau turun langsung ke bawah," ungkap Daniel dengan haru.
Selain perhatian, juga diberikan bantuan fisik berupa unit Laptop dan Smart TV. Bantuan ini merupakan jawaban atas kebutuhan KGJ untuk memulai program digitalisasi bagi anak-anak pinggiran.
"Anak-anak suka dunia TikTok, maka kami mencoba memperkenalkan bagaimana mengedukasi teknologi ini ke arah yang lebih baik. Perkembangan digital bukan hanya untuk kalangan atas. Kalangan bawah pun akan mengalaminya," kata Daniel.
Daniel mengakui bahwa mengarahkan anak-anak di pemukiman padat terhadap penggunaan teknologi yang positif adalah tantangan tersendiri.
| Baca Juga: Talitha Shahiza, Wanita Asal Gresik Tekuni Profesi Caster E-Sport yang Jarang Digeluti
Dengan adanya bantuan alat tersebut, KGJ berkomitmen untuk mengawal literasi digital anak-anak Rawa Bunga agar tidak hanya menjadi penonton, tapi juga pemanfaat teknologi yang cerdas.
"Apa yang dititipkan kepada kami menjadi amanah. Kami berharap kelak ketika ada kunjungan lagi, mereka bisa melihat dampak yang luar biasa, bukan hanya sebatas ini saja," pungkasnya optimis. (*)







