VIVIA MEDIA — Tidak ada ambisi besar yang dipasang Budi Fung dan Marlene ketika putra semata wayang mereka, Ashton Alexander Fung, masih berusia balita. Keduanya tidak pernah memiliki target untuk menjadikan Ashton sebagai anak jenius atau mengejar sederet penghargaan sejak dini.

Yang mereka lakukan justru sederhana: membuka sebanyak mungkin kesempatan bagi Ashton untuk mencoba berbagai hal. Pendekatan itu kini membawa hasil yang mencuri perhatian.

Ashton, yang kini masih 9 tahun, dikenal sebagai salah satu anak Indonesia dengan prestasi luar biasa di bidang matematika. Berbagai pencapaian internasional telah berhasil diraihnya.

Ashton meraih Global Rank No. 3 South East Asia Math Olympiad (SEAMO) X Bali 2026, sebuah pencapaian yang menempatkannya sebagai salah satu peserta terbaik di kawasan Asia Tenggara.

| Baca Juga: Kadek Seina: Dari Menulis Skrip Menuju Kompetisi Barista Asia Pasifik

Selain itu, siswa Sampoerna Academy itu juga berhasil menjadi Top Scorer (Diamond Medal) World Math International Thailand 2025, setelah menunjukkan kemampuan matematika yang unggul dalam kompetisi tingkat internasional tersebut.

Ia juga memperoleh SEAMO Legend Award setelah berhasil meraih tiga medali emas berturut-turut, sebuah penghargaan yang mencerminkan konsistensi prestasinya dalam ajang SEAMO.

Ia meraih medali emas Olimpiade Matematika Internasional pada usia enam tahun, memiliki skor IQ 145, memahami konsep perkalian saat berusia tiga tahun, serta mulai menguasai konsep kuadrat dan akar pada usia empat tahun.

Bagi Budi dan Marlene, prestasi hanyalah hasil dari proses ketika seorang anak diberi kesempatan untuk mengeksplorasi minatnya. Hal itu didukung dengan lingkungan belajar yang tepat, serta dibimbing untuk menikmati perjalanan menemukan potensinya sendiri.

| Baca Juga: Sempat Diremehkan, Alexandra Adams Jadi Dokter Tuli-Buta Inggris Pertama

“Kita sebagai orang tua memang dari awal punya komitmen untuk memperkenalkan Ashton sejak sedini mungkin kepada berbagai macam bidang,” ujar Budi bincang-bincang tentang S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain di Senayan City, Jakarta baru-baru ini.

Alih-alih mengarahkan Ashton hanya pada satu kemampuan tertentu, Budi dan Marlene memilih memperkenalkannya pada banyak pengalaman. Matematika, sains, coding, piano, berkuda, golf, hingga kecerdasan buatan (AI) dikenalkan tanpa tekanan bahwa Ashton harus menjadi yang terbaik di semua bidang.

“Kita tidak membatasi, ‘kamu hanya coba ini atau itu’. Kita berusaha memperkenalkan berbagai macam bidang. Nanti kita lihat Ashton ternyata minatnya ada di mana. Itu yang paling penting bagi kami sebagai orang tua,” kata Budi.

Dari proses tersebut, mereka perlahan menemukan bahwa rasa ingin tahu Ashton berkembang sangat luas. Pada awalnya, keluarga hanya melihat kemampuan matematika yang menonjol. Namun, setelah diberikan ruang untuk mengeksplorasi berbagai hal, muncul ketertarikan baru di bidang lain.

| Baca Juga: Misi Lari 21 Km Penyintas Thalassemia, Demi Sebarkan Edukasi soal Penyakit Darah Genetik

“Awalnya kita hanya melihat kemampuan Ashton lebih di matematika. Tetapi setelah terus dieksplorasi, ternyata minatnya berkembang ke banyak bidang lain,” ujar Budi.

Orang Tua Ikut Belajar

Budi menyadari bahwa kemampuan anak dapat berkembang sangat cepat. Karena itu, orang tua juga harus memiliki kemauan untuk terus belajar.

Budi bahkan kembali mempelajari berbagai materi, termasuk matematika, agar dapat mengikuti pembicaraan dan menjadi teman berdiskusi bagi putranya.

“Kalau anak maju sementara orang tuanya berhenti belajar, anak itu juga bisa berhenti berkembang. Karena itu kami harus ikut mengimbangi Ashton. Saya juga belajar lagi, mencari materi-materi baru supaya rasa ingin tahunya tetap terjaga,” tuturnya.

| Baca Juga: Talitha Shahiza, Wanita Asal Gresik Tekuni Profesi Caster E-Sport yang Jarang Digeluti

Marlene mengatakan, sejak usia dua tahun, Ashton sudah menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap angka. Saat menikmati makanan ringan, misalnya, Ashton sering menghitung sendiri jumlah makanan yang ada di dalam kemasan. Ia bahkan mulai melakukan operasi hitung sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan tanpa diarahkan.

“Karena kami melihat ada potensi dalam diri Ashton, kami kemudian mulai memberikan stimulasi dengan mengajarkan konsep-konsep dasar matematika,” kata Marlene.

Perkembangannya berlangsung cepat. Pada usia tiga tahun, Ashton mulai memahami konsep perkalian. Setahun kemudian, ia sudah mengenal konsep kuadrat dan akar.

Melihat perkembangan tersebut, Budi dan Marlene memutuskan berkonsultasi dengan psikolog untuk memahami karakter belajar Ashton secara lebih mendalam.

“Kami sangat terbantu dengan arahan dari psikolog,” ujar Marlene.

| Baca Juga: Kisah Cucu Pakai Gaun Pengantin Mendiang Nenek dari Tahun 60-an di Hari Pernikahan

Dari proses pendampingan tersebut, keluarga memahami bahwa Ashton merupakan anak gifted dengan gaya belajar kinestetik. Ia tidak selalu cocok dengan metode belajar yang mengharuskannya duduk diam dalam waktu lama. Sebaliknya, ia lebih mudah memahami sesuatu melalui eksplorasi dan pengalaman langsung.

“Biasanya setelah belajar sendiri, nanti dia akan menulis lagi di kertas atau buku. Setelah itu baru dia berdiskusi dengan kami,” ungkap Marlene.

Memberi Kebebasan, Bukan Membiarkan Tanpa Arah

Meski dikenal memiliki banyak kemampuan, keseharian Ashton tidak berjalan dengan jadwal belajar yang penuh tekanan. Budi dan Marlene justru memberikan ruang bagi putranya untuk mengatur ritme aktivitasnya sendiri.

Menurut Budi, Ashton memiliki kemampuan untuk mengenali kapan dirinya membutuhkan fokus dan kapan harus beristirahat.

| Baca Juga: Terinspirasi Pandawara Group, 4 Bocah SD Ini Bikin Kelompok Bersih-bersih Lingkungan

Ketika sedang mengerjakan sesuatu yang disukai, seperti coding atau mengembangkan proyek berbasis artificial intelligence (AI), Ashton dapat berkonsentrasi dalam waktu lama. Namun, ketika mulai merasa lelah, ia akan beralih ke aktivitas lain yang juga ia sukai.

“Kalau dia lagi mengerjakan AI, misalnya, lalu mulai capek atau bosan, dia bisa langsung pindah ke pianonya dan bermain musik. Dia sendiri yang mengatur kapan harus berganti aktivitas,” ujar Budi.

Ashton juga merasa kebebasan tersebut membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan. Ia mengaku tidak merasa terbebani meski harus membagi waktu antara matematika, coding, musik, dan berbagai aktivitas lainnya.

“My secret is that I love to do those activities," ujarnya. Menurutnya, rasa suka terhadap aktivitas yang dijalani menjadi alasan utama mengapa ia dapat terus belajar tanpa mudah merasa bosan.

| Baca Juga: Kisah Pasutri Menanti Buah Hati Selama 22 Tahun, Kini Dikaruniai Anak Kembar

“Kalau saya mulai lelah melakukan sesuatu, saya biasanya pindah ke kegiatan lain yang saya suka. Setelah itu saya bisa kembali lagi melanjutkan pekerjaan sebelumnya,” ujar peraih medali emas sekaligus meraih Global Rank 7 dunia di ajang BigBayBei Finale Math Olympiad di Hong Kong pada tahun 2025 itu.

Tetap Menjadi Anak-Anak Lewat Permainan di Luar Ruangan

Di tengah berbagai pencapaian akademiknya, Ashton tetap menjalani masa kecil seperti anak-anak pada umumnya. Bagi Budi dan Marlene, aktivitas bermain tidak boleh hilang hanya karena anak memiliki kemampuan tertentu.

Sejak kecil, Ashton tetap diajak bermain di luar rumah, mengunjungi taman, menikmati ruang terbuka, dan mengamati lingkungan sekitar ketika keluarga bepergian.

Budi melihat pengalaman sederhana tersebut memiliki peran besar dalam perkembangan anak.

| Baca Juga: Marlina Chlara Sesa, Wanita Papua Pertama yang Kantongi Lisensi Pesawat Airbus A320

“Dari bermain di luar dia belajar banyak hal. Mendengar suara angin, melihat daun, mengenal serangga, mengamati lingkungan. Hal-hal kecil seperti itu ternyata ikut membentuk cara berpikir dan imajinasinya,” ujarnya.

Selain memperkaya pengalaman, aktivitas luar ruang juga membantu Ashton mengembangkan kemampuan sosial.

Setelah pandemi Covid-19 mereda, Budi dan Marlene semakin sering mengajak Ashton berinteraksi dengan orang lain. Mereka ingin putranya tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan bekerja sama dan memahami lingkungan sekitar.

“Kami ingin dia belajar bersosialisasi, belajar bekerja sama, punya empati, dan bisa menjadi anggota tim maupun pemimpin yang baik,” kata Budi.

| Baca Juga: Di Balik Kesuksesan ‘Obsession’: Inde Navarrette Dulu Jadi Streamer Demi Bayar Sewa Rumah

Meski memberi kebebasan dalam belajar dan bereksplorasi, ada satu aturan yang tetap dijaga dengan disiplin di rumah Ashton: waktu tidur.

Setiap malam, Ashton harus tidur pukul 21.00. “My parents also have strict discipline. Every 9 p.m., I have to go to sleep,” ujar Ashton.

Aturan tersebut berlaku bahkan ketika ia sedang menikmati aktivitas yang disukainya.

Menurut dokter spesialis anak dr. Yoga Andika, Sp.A., kebiasaan tidur teratur merupakan salah satu fondasi penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

“Jam tidur yang paling baik sebenarnya antara pukul 22.00 sampai 02.00 karena pada waktu tersebut hormon pertumbuhan bekerja paling optimal,” ujar dr. Yoga.

| Baca Juga: Nenek 74 Tahun, Ying Zi Buktikan Usia Bukan Halangan untuk Tetap Tampil Modis

Saat ini, Ashton mulai memperdalam berbagai bidang yang menurutnya dapat memberikan manfaat bagi banyak orang, seperti sains, coding, dan artificial intelligence (AI).

Ia memiliki cita-cita menjadi seorang game changer sekaligus problem solver, seseorang yang mampu menciptakan solusi untuk berbagai tantangan di masa depan.

Bagi Ashton, kemampuan tidak akan berkembang tanpa keberanian untuk mencoba, termasuk ketika menghadapi kegagalan.

“If you fall, stand. If you fail, try again,” ujar Ashton. (*)

1 2 3 4 5 SHOW ALL

Tags: